Pemprov Jateng ungkap penyebab utama longsor di lereng Gunung Slamet

1 week ago 4

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Purbalingga disebabkan oleh sejumlah faktor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng Widi Hartanto, di Semarang, Rabu, menyebutkan bahwa tingginya curah hujan adalah salah satunya.

Selain tingginya curah hujan, kombinasi antara kerapatan jaringan aliran sub- daerah aliran sungai (DAS) yang tinggi, kelerengan yang sangat curam, dan jenis tanah latosol coklat adalah penyebab utama terjadinya tanah longsor.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, terjadi curah hujan ekstrem dengan durasi lama pada 23-24 Januari 2026, dengan curah hujan mencapai 100-150 mm per hari di wilayah hulu (lereng Gunung Slamet) sehingga menyebabkan peningkatan debit air secara drastis.

"Idealnya curah hujan normal per hari itu sampai 50 mm. Debit air tinggi itu berpengaruh terhadap banjir," katanya.

Wilayah seperti Kecamatan Pulosari dan Moga, Kabupaten Pemalang, lanjut dia, berada di Sub DAS Penakir atau bagian dari hulu Sub DAS Gintung, dengan dominasi kemiringan lerengnya kategori agak curam hingga sangat curam meningkatkan kecepatan limpasan permukaan dan daya kikis aliran.

Baca juga: Pemprov Jateng: Longsor area Gunung Slamet bukan karena penambangan

Akibatnya, sub-DAS Penakir rentan terhadap terjadinya erosi lahan dan longsor lereng di bagian hulu–tengah yang dampak lanjutannya berupa peningkatan muatan sedimen dan pendangkalan sungai di bagian hilir.

Berdasarkan catatan, sejak tahun 2022 sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet.

Menurut dia, kawasan Sub DAS Penakir didominasi tanah latosol, dengan karakteristik tanah rentan terhadap erosi dan longsor akibat sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air.

"Banjir bandang terjadi lewat peningkatan limpasan permukaan yang cepat, serta suplai sedimen tinggi akibat sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi," katanya.

Selain itu, faktor lain yang juga bisa mempengaruhi banjir dan longsor adalah daya dukung dan daya tampung lingkungan, yaitu kemampuan lahan untuk melindungi dari tekanan.

Baca juga: Kemen PU kerahkan alat berat dan petugas tangani pemulihan di Tukka

"Kalau curah hujan tinggi tetapi tutupan lahan sangat baik atau rapatannya tinggi, maka dampaknya tidak terlalu besar," katanya.

Ia mengatakan banjir yang terjadi di kawasan tersebut tidak berhubungan dengan aktifitas penambangan karena aktivitas penambangan berada di bawah di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran.

Lebih lanjut, Pemprov Jateng telah melakukan upaya penanganan jangka panjang untuk mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor yang lebih parah, di antaranya dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan.

"Kami ada program itu. Teman-teman seluruh 'stakeholder' juga sudah banyak yang berkontribusi untuk penanaman di kawasan Gunung Slamet," katanya.

Baca juga: Mentan sebut tanaman perkebunan solusi cegah longsor di pegunungan

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |