Semarang (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berkomitmen menjaga keberlanjutan Kampung Batik Rejomulyo sebagai sentra batik ramah lingkungan sekaligus penguat identitas Batik Semarang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujemg, di Semarang, Minggu, mengapresiasi pengelolaan kawasan produksi batik yang telah dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tersebut.
Dengan demikian, lanjut dia, memungkinkan dilakukan proses membatik dengan pewarna alam.
Menurut dia, langkah tersebut menunjukkan keseriusan Kampung Batik Rejomulyo dalam menjaga lingkungan tanpa meninggalkan nilai budaya.
"Ada IPAL, jadi memang diniatkan untuk produksi batik dengan pewarna alam. Bukan hanya produksi kain batik dengan pewarna-pewarna biasa, Ini dengan pewarna alam," katanya.
Baca juga: Pemkot Jakut dukung Batik Sukapura guna lestarikan budaya Betawi
Tak hanya fokus pada produksi, wali kota juga menaruh perhatian pada upaya pelestarian sejarah Batik Semarang.
Ia menyebut muncul gagasan dari pelaku batik setempat untuk menghadirkan museum batik yang menampilkan replika batik Semarang sejak era 1800 hingga 1900-an.
Ia menilai inisiatif tersebut menjadi nilai tambah yang penting bagi Kampung Batik Rejomulyo.
Ia menambahkan, revitalisasi Kampung Batik Rejomulyo yang dilakukan Pemkot Semarang menjadi kado 20 tahun sejak kawasan tersebut mulai dikembangkan pada 2006.
Baca juga: Pemkot Surakarta tata Kampung Batik Kauman
Revitalisasi tersebut, kata dia, menghadirkan kawasan yang lebih tertata, ruang pamer yang bersih, serta lingkungan yang lebih representatif bagi perajin maupun pengunjung.
Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































