Pemkot Makassar harap rekomendasi APEC untuk layanan kesehatan anak

2 weeks ago 12

Makassar (ANTARA) - Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) berharap ada rekomendasi yang lahir dari pertemuan Managing Child Health for Healthcare Workforce yang diselenggarakan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk peningkatan kesehatan anak.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Makassar, Kamis mengatakan, kegiatan lokakarya APEC yang digelar tiga hari (20-22) di Makassar dihadiri oleh delegasi dari beberapa negara sahabat di kawasan Asia Pasifik.

"Kami berharap workshop ini tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi dapat melahirkan rekomendasi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi pengembangan layanan kesehatan, khususnya kesehatan anak," ujarnya.

Munafri Arifuddin mengatakan lokakarya itu menjadi momentum strategis untuk membangun sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan para pemangku kepentingan lainnya.

"Ini penting untuk merumuskan langkah-langkah konkret dan strategis dalam mencapai pembangunan kesehatan yang berkelanjutan, adil, dan merata di Kota Makassar," jelasnya.

Baca juga: Makassar pererat diplomasi kesehatan anak lewat Workshop APEC

Appi, sapaan akrab Munafri Arifuddin menekankan pentingnya komitmen bersama dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan kompetitif, demi kesejahteraan masyarakat serta kemajuan wilayah.

Menurut dia, lokakarya itu sejalan dengan Visi APEC 2040 dan Rencana Strategis APEC Health Working Group (HWG) 2021–2025, yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia kesehatan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.

"Kami harap rekomendasi konkret dari seluruh peserta, terutama terkait pengembangan layanan kesehatan anak di Makassar, agar pembangunan sektor kesehatan dapat berjalan selaras dengan pertumbuhan ekonomi daerah," tutur dia.

Baca juga: Pertemuan Menteri Perdagangan APEC 2026 digelar di Suzhou

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Octavianus dalam sambutannya pada pembukaan workshop menegaskan pentingnya investasi berkelanjutan pada tenaga kesehatan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

"Kesehatan anak merupakan landasan pengembangan sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, investasi dalam kapasitas tenaga kesehatan melalui pendidikan," katanya.

Ia menyampaikan, kesehatan anak hingga kini masih menjadi tantangan di sejumlah ekonomi berkembang anggota APEC, termasuk Indonesia.

Ia menyatakan perbedaan capaian kesehatan anak antarekonomi masih cukup lebar dan memerlukan penanganan bersama yang terintegrasi.

Berdasarkan data World Population Review, angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) di beberapa ekonomi maju seperti Singapura dan Hong Kong berada pada kisaran 1,5–6,2 per 1.000 kelahiran hidup.

Sementara di Indonesia tercatat 18,9 per 1.000 kelahiran hidup, dan Papua Nugini mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup.

Perbedaan tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas hidup anak, tetapi juga berpengaruh terhadap pembangunan sosial dan ekonomi jangka panjang.

Baca juga: Cegah masalah kesehatan tulang pada anak dengan vitamin D

Pewarta: Muh. Hasanuddin
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |