Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata fokus meningkatkan kualitas layanan pariwisata dalam upaya untuk memperkuat daya saing pariwisata nasional.
"Yang perlu diingat adalah kita saat ini bicaranya adalah quality over quantity. Kita tidak hanya bicara jumlah, tapi kita bicara bagaimana kualitas dari destinasi dan kualitas dari pengalaman berwisata," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa saat ditemui ANTARA di Jakarta pada Kamis.
Dia menyampaikan hal itu menanggapi pernyataan anggota parlemen yang menilai daya tarik pariwisata Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam.
Wakil Menteri Pariwisata menekankan pentingnya perbaikan kualitas layanan pariwisata, yang mencakup peningkatan daya tarik objek wisata dan pengalaman berwisata, dalam upaya untuk memperkuat daya saing sektor usaha pariwisata.
Ia menyampaikan bahwa angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia terus meningkat, dan itu menunjukkan respons positif wisatawan luar negeri terhadap kualitas pelayanan pariwisata di Indonesia.
Angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 tercatat 13,98 juta, naik 10,44 persen dari 12,66 juta kunjungan pada kurun yang sama tahun sebelumnya.
"Itu bisa kita asumsikan bahwa kepercayaan dunia untuk wisatawan ke Indonesia pulih," kata Ni Luh Puspa.
Namun demikian, dia menyampaikan bahwa perbaikan masih perlu dilakukan dalam beberapa penyelenggaraan pelayanan pariwisata, antara lain yang berkenaan dengan penanganan dan pengelolaan sampah di daerah tujuah wisata.
Oleh karena itu, ia mengatakan, pemerintah berencana membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di beberapa daerah tujuan wisata.
"Maret nanti untuk masalah sampah Pak Presiden juga concern di tiga daerah akan mulai ground breaking untuk waste to energy, direncanakan bulan Maret nanti bersama dengan BUMN," katanya.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah juga berupaya meningkatkan konektivitas dan keamanan di tempat-tempat tujuan wisata.
Baca juga: Airlangga tekankan pentingnya konektivitas dan keselamatan pariwisata
Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono sebelumnya mengemukakan bahwa daya tarik pariwisata Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga di wilayah Asia Tenggara.
"Kalau kita lihat data, Malaysia pada 2025 menargetkan 40 juta wisatawan dan terealisasi 38 juta. Thailand juga sudah mencapai 39 juta, sementara Vietnam yang dulu di bawah kita kini sudah di angka 22 juta," katanya dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata pada Rabu (21/1).
Ia menyebut masalah integrasi layanan transportasi dan konektivitas sebagai faktor yang menyebabkan daya tarik pariwisata Indonesia menurun di mata wisatawan asing.
"Di negara lain, dari bandara sampai ke hotel dan destinasi wisata sudah terintegrasi. Sementara di Indonesia, ke hotel saja sering kali harus pakai transportasi pribadi," katanya.
Selain itu, Bambang menyoroti masalah keamanan dan keselamatan layanan transportasi pariwisata serta mengemukakan perlunya pembentukan satuan polisi pariwisata guna meningkatkan keamanan wisatawan.
Baca juga: Pemerintah fokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan
Baca juga: Komisi VII DPR: Aturan uang minimal wujudkan pariwisata berkualitas
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































