Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis ortopedi subspesialis ortopedi anak lulusan Universitas Indonesia dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp.OT, Subsp. A. (K) mengatakan bahwa pemakaian bentuk sepatu secara spesifik bukan menjadi penyebab telapak kaki bayi menjadi datar.
"Sering orang tua tanya, perlu pakai sepatu seperti apa kalau kakinya datar. Sejujurnya, prinsip saya asalkan anak nyaman. Inilah banyak mitos seputar flat foot (kaki datar)," kata dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp.OT, Subsp. A. (K) dalam temu media di Jakarta, Rabu.
Mengutip penelitian terbaru, Aulia menyampaikan bahwa sebenarnya mayoritas kaki bayi yang baru lahir sudah datar. Hal tersebut dikarenakan kakinya masih fleksibel dan lemak di bawah kulitnya masih tebal.
Baca juga: Dokter bantah bedong bantu kaki bayi tak berbentuk O
Telapak kaki yang datar itu menurutnya akan membaik pada sekitar umur 2 sampai 4 tahun. Kecuali jika bentuk kaki anak berkaitan dengan faktor keturunan.
"Kalau dia punya faktor keturunan, memang kemungkinan besar akan persisten sampai dewasa. Kalau dianalogikan flat foot itu seperti kita punya hidung dan mancung karena faktor keturunan yang kuat," ucap dia.
Dari sisi dokter, dia menyampaikan tidak akan memberikan tindakan kecuali anak memiliki kelainan atau ada keluhan. Misalnya, seperti kaki yang sudah terlalu X dan menyebabkan anak kesulitan berjalan.
Baca juga: Perjalanan bayi prematur menuju kemampuan untuk minum
"Karena dia terlalu fleksibel, jadi tertekan terus di sisi dalamnya dan membuat anak jadi sakit. Itu ada indikasi kita lakukan pemasangan insole supaya kakinya tertahan atau ada beberapa teknik operasi yang diperlukan untuk koreksi," tambahnya.
Dengan demikian, Aulia menekankan selama anak dapat berjalan dengan nyaman dan tidak memiliki keluhan apapun, sepatu apapun yang dikenakan tidak akan memberikan dampak pada kakinya.
"Enggak ada yang khusus sebenarnya. Jadi kalau anaknya enggak ada keluhan dalam pola jalan, tidak ada semacam kelainan dan bergerak semuanya, alas kaki nyaman buat anaknya saja. Jadi enggak ada yang khusus," kata Aulia.
Baca juga: Dokter ungkap tantangan neurologis pada bayi prematur
Baca juga: Bayi baru lahir bisa kenali pola bunyi kompleks
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































