Jakarta (ANTARA) - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) menghidupkan kembali Klinik Waluya Sejati Abadi di Sukabumi, Jawa Barat, untuk melayani masyarakat kecil setelah sempat berhenti beroperasi karena masalah perizinan selama 15 tahun.
Peresmian dilakukan pada Minggu, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-53 PDI P. PDI P meyakini momentum ini bukan sekadar peresmian biasa, melainkan sebuah reaktivasi dari sejarah panjang pengabdian kesehatan di Sukabumi.
Sekretaris Jenderal DPP PDI P, Hasto Kristiyanto, mengatakan, partainya menempatkan kemanusiaan di atas kalkulasi politik elektoral. Kehadiran klinik ini disebut menjadi bukti dari tema HUT, yakni “satyam eva jayate” atau ‘kebenaran pasti menang’.
“Gerak kemanusiaan itu muncul dari hati nurani yang paling bening. Ketika untuk gerak kemanusiaan saja ada yang menghambat maka mereka tidak memahami makna hakiki dari kemanusiaan tersebut. Selama rakyat menderita, suara kemanusiaan kita berbicara jauh di atas kalkulasi hitung-hitungan urusan elektoral politik,” kata Hasto seperti keterangan diterima di Jakarta.
Gedung yang diresmikan kembali hari ini dahulunya dikenal sebagai Rumah Sakit Pelita Rakyat (RSPR). Ketua Umum PDI P, Megawati Soekarnoputri, meresmikan RSPR pada 2011, tetapi operasinya berhenti pada tahun 2015 karena kendala perizinan.
Hasto berpesan, Klinik Waluya Sejati Abadi harus menjadi tempat rakyat merasa dimanusiakan.
“Hadirnya klinik ini akan menjadi bagian dari tangan kiri partai kita untuk bersikap progresif dalam menyelamatkan rakyat, sedangkan tangan kanan kita adalah manajemen pelayanan dengan tulus tanpa diskriminasi. Di klinik ini, rakyat tidak ditanya berapa kekayaanmu, tetapi rakyat ditanya apa penyakitmu,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua DPP PDI P Bidang Kesehatan sekaligus inisiator klinik, dr Ribka Tjiptaning Proletariyati, mengenang masa-masa Klinik Waluya Sejati berhenti beroperasi. Ia mengenang perbincangannya dengan Megawati kala itu.
“Saya menangis kepada Mbak Mega, saya bilang, 'Mbak kok lucu, ya, mau berbuat baik sama rakyat saja kok susah. Khan tidak diminta uang?' Terus ibu ketua umum cuma sederhana menjawab: 'Neng, kamu lihat cucumu belajar berjalan. Pasti langkah pertama itu dia akan terjatuh dan terluka, tapi kalau cucumu tidak ada keberanian melangkah pertama, tidak akan ada seribu langkah berikutnya karena langkah pertama itu menentukan arah dan tujuan’,” ujar Ribka menirukan pesan Megawati.
Ia mengaku haru melihat klinik tersebut kembali melayani rakyat dengan biaya Rp25.000 untuk berobat jalan dan Rp50.000 untuk persalinan hingga pulang. “Kalau dia tidak punya uang, yang bayar DPC PDI Perjuangan. Di sini semua dilayani dengan senyum tanpa diskriminasi,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, mengumumkan penghapusan seluruh retribusi kesehatan di puskesmas dan klinik per 1 Januari 2026.
“Wali kota yang sekarang berkomitmen untuk menyelesaikan hak-hak dasar masyarakat Kota Sukabumi, dan itu sejalan juga dengan PDI Perjuangan,” ujarnya.
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































