Jayapura (ANTARA) - Pangdam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim mengatakan bahwa batalnya kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo. karena faktor keamanan.
Pembatalan rencana kunjungan kerja yang dijadwalkan pada Rabu (14/1) memang secara resmi ditunda.
"Pembatalan tersebut diambil setelah melalui beberapa penilaian data dan fakta serta analisa intelijen serta terkait berdasarkan penilaian situasi di lapangan hingga pagi terkait perkembangan situasi menjelang kunjungan Wapres ke Yahukimo," kata Pangdam XVII Cendrawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim, Rabu.
Dalam keterangannya di Biak, Pangdam XVII/Cenderawasih selaku Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Pangkogasgabpad) Pengamanan VVIP menegaskan, faktor keamanan merupakan prioritas mutlak.
"Bapak Wakil Presiden memiliki keinginan yang sangat kuat untuk berkunjung ke Yahukimo untuk menyapa masyarakat dan meninjau langsung progres pembangunan di sana, namun saya selaku Komandan Satuan Tugas Pengamanan VVIP, menyarankan kepada Bapak Wakil Presiden untuk menunda kunjungan tersebut," kata Mayjen TNI Amrin Ibrahim.
Pangdam mengatakan, penundaan itu berdasarkan analisis intelijen di lapangan yang terdeteksi adanya indikasi aktivitas dari kelompok-kelompok yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan kelancaran acara di wilayah Yahukimo.
"Walaupun demikian, Pemerintah Pusat berkomitmen untuk membangun wilayah Yahukimo tidak akan surut, dan kunjungan kerja akan dijadwalkan kembali setelah situasi dinyatakan sepenuhnya kondusif," kata Pangdam XVII Cendrawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim yang didampingi KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan Kapolda Papua Irjen Pol Patrige Renwarin.
Wapres Gibran sebelumnya melakukan kunker ke Biak, Provinsi Papua dan Wamena, Provinsi Papua Pegunungan.
Baca juga: Wapres sambangi Pasar Potikelek Wamena pastilan ekonomi OAP jalan baik
Baca juga: Wapres pastikan "quick wins" berjalan optimal di Papua Pegunungan
Pewarta: Evarukdijati
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































