Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono, PhD mengatakan Indonesia harus bisa menarik investasi global di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos karena dihadiri pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global.
Presiden Prabowo Subianto diagendakan untuk memberikan pidato kunci di WEF di Davos, Swiss yang dihadiri sekitar 3.000 peserta dari hampir 130 negara yang mencerminkan beragam perspektif lintas sektor dan kawasan dengan tema WEF "A Spirit of Dialogue".
"WEF adalah panggung emas untuk menarik investasi global, dan Presiden Prabowo harus memanfaatkannya," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu.
Menurutnya momen itu menjadi kesempatan untuk mempromosikan sektor-sektor yang sedang berkembang, seperti energi hijau dan teknologi digital. Dengan lebih 270 juta penduduk dan kelas menengah yang terus tumbuh, pasar domestik Indonesia adalah daya tarik utama bagi investor.
"Ditambah lagi, Indonesia kaya akan sumber daya alam, yang bisa dimanfaatkan untuk kerja sama infrastruktur dan energi terbarukan. Lewat hilirisasi sumber daya alam, Indonesia bisa memperkuat ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor," tuturnya.
Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi asing langsung (FDI) mencapai Rp900,9 triliun pada 2025, dengan sektor-sektor teknologi, infrastruktur, dan manufaktur menjadi primadona.
Ia mengatakan Indonesia semestinya memanfaatkan momen itu untuk unjuk gigi dan bukan sekadar acara seremonial semata, tapi kesempatan strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia dan turut memastikan kompas ekonomi global ke depan.
"Terlebih dalam dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia harus aktif mengambil peran, bukan sekadar menunggu. Meski dengan tema WEF kali ini seakan memberi sinyal bahwa dunia sedang memasuki era baru di mana isu-isu krusial seperti perdagangan, keuangan, dan teknologi digunakan sebagai alat untuk saling mempengaruhi," katanya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu menjelaskan ketidakstabilan global, seperti perang dan fragmentasi geopolitik, menuntut diplomasi yang kuat dan kerja sama internasional, sehingga Indonesia, dengan posisi strategisnya, bisa menjadi negara penengah dalam konflik ekonomi global.
"Lewat WEF, Indonesia harus memperkuat posisinya seperti di G20 dan WTO, menjadikan negara itu jembatan yang menghubungkan negara maju dan berkembang untuk mendorong perdagangan bebas dan pembangunan ekonomi yang inklusif," ujarnya.
WEF adalah momen penting untuk menunjukkan Indonesia sebagai pemain utama di Asia Tenggara. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, dengan PDB hampir USD 1,44 triliun pada 2025 (proyeksi IMF), Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis.
"Untuk itu, Indonesia harus lebih dari sekadar partisipasi, Presiden Prabowo harus menonjolkan Indonesia sebagai solusi bagi ketegangan global, baik itu dalam energi, perdagangan, atau diplomasi ekonomi," katanya.
Adhitya mengatakan Indonesia juga harus menjadi jembatan solusi krisis global. Dengan krisis energi global yang semakin memanas dan fokus dunia yang beralih ke keberlanjutan, Indonesia bisa menjadi pemimpin dalam transisi energi.
Sebagai negara dengan cadangan geothermal terbesar dunia yang mencapai 24 Giga Watt (GW) atau 40 persen dari cadangan panas bumi di dunia, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemain utama dalam energi terbarukan.
"Indonesia harus memanfaatkan WEF untuk menunjukkan kesiapan kita dalam menyediakan solusi berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil," ujarnya.
Melalui WEF, lanjut dia, Indonesia harus menegaskan bahwa sektor digital akan menjadi pendorong utama dalam meningkatkan efisiensi ekonomi, membuka lapangan kerja baru, dan mempercepat inklusi keuangan.
"Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai USD 130 miliar pada 2030. Digitalisasi bukan hanya tren, itu adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucap pakar moneter itu.
Baca juga: Arab Saudi pamer capaian kualitas hidup di WEF Davos
Baca juga: Sekjen PBB batalkan rencana perjalanan ke KTT Davos
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































