Jakarta (ANTARA) - Sektor perkebunan merupakan tulang punggung perekonomian nasional, baik dari sisi sosial maupun devisa.
Lebih dari 10,8 juta rumah tangga, yang didominasi petani kecil, menggantungkan hidup pada usaha perkebunan. Kontribusi sektor ini terhadap ekspor pertanian sangat dominan. Bahkan, pada 2022, nilai ekspor pertanian yang mencapai Rp640,56 triliun, sebagian besar (97,16 persen) berasal dari sektor perkebunan.
Kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp468,64 triliun atau sekitar 75 persen ekspor pertanian, disusul kopi, kakao, serta komoditas lain seperti karet, kelapa, lada, pala, dan jambu mete yang memperkuat basis ekonomi daerah dan pendapatan petani.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, sektor perkebunan memiliki potensi besar sebagai penopang ekonomi yang tangguh di tahun 2026 dan seterusnya. Permintaan dunia terhadap produk pangan, minuman, rempah, dan bahan baku industri tetap tinggi, namun perlu dijawab dengan strategi penguatan yang menyeluruh.
Hilirisasi industri menjadi kunci peningkatan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja, diiringi penguatan petani melalui peningkatan produktivitas dan kemitraan usaha. Penerapan prinsip keberlanjutan dan standar internasional akan menjaga akses pasar sekaligus kelestarian sumber daya.
Industri untuk nilai tambah
Hilirisasi menjadi kunci strategis dalam memperkuat ekonomi perkebunan dengan cara mengolah komoditas di dalam negeri agar bernilai tambah tinggi sebelum diekspor. Arah kebijakan ini telah ditegaskan sejak era Presiden Joko Widodo dan berlanjut pada pemerintahan Presiden Pabowo saat ini, dengan menahan ekspor bahan mentah serta mendorong industrialisasi produk perkebunan.
Keberhasilan paling nyata terlihat pada kelapa sawit yang hingga 2023 telah menghasilkan 193 jenis produk turunan, mulai dari pangan, oleokimia, kosmetik hingga biofuel. Industri hilir sawit yang kuat tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga menopang penghidupan sekitar 2,4 juta petani swadaya dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasoknya.
Pendekatan hilirisasi serupa perlu diperluas ke komoditas lain seperti kakao, kopi, rempah, dan kelapa. Kakao dan kopi akan memperoleh nilai tambah jauh lebih besar jika diolah menjadi cokelat, kopi instan, dan produk specialty di dalam negeri, bukan sekadar diekspor sebagai bahan mentah.
Baca juga: Mentan: Program perkebunan buka 1,6 juta lapangan kerja
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































