Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) meningkatkan upaya konservasi berbagai artefak berbahan organik dan logam sebagai langkah untuk melindungi barang-barang koleksi agar tidak rusak akibat pengaruh musim penghujan.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam di Mataram, Jumat, mengatakan tingkat kelembaban udara cenderung lebih tinggi selama musim penghujan, sehingga perawatan artefak harus dilakukan secara intensif.
"Kami punya banyak koleksi yang rentan rusak, seperti manuskrip, kain, dan berbagai peralatan yang terbuat dari logam serta kayu. Kegiatan konservasi rutin kami lakukan apalagi mendekati akhir tahun, hujan lebih sering turun," ujarnya.
Nuralam menuturkan petugas konservator saat ini berada di dalam laboratorium hampir setiap hari untuk memastikan semua benda dalam kondisi terlindungi dan terawat.
Aktivitas konservasi tidak hanya dilakukan terhadap benda-benda yang tersimpan di dalam gudang ataupun ruang pameran, tetapi juga benda koleksi yang berada di halaman Museum NTB.
Koleksi jangkar kapal dan meriam yang terbuat dari besi, serta arca lingga yoni berbahan batu merupakan koleksi yang terletak di halaman museum. Ragam koleksi itu lebih rentan rusak karena terpapar langsung dengan udara luar, hujan, dan sinar matahari.
"Bulan ini kami fokus ke benda berbahan logam terutama yang ada di luar ruangan," kata Nuralam.
Ragam aktivitas konservasi yang dilakukan Museum NTB, di antaranya menjaga kestabilan suhu ruangan agar artefak tidak ditumbuhi jamur atau berkarat, membersihkan artefak, dan melapisi dengan bahan pelindung.
Baca juga: Jejak identitas di balik dinding museum
Lebih lanjut Nuralam menyampaikan pihaknya juga memastikan saluran air lancar dan tidak ada kebocoran bangunan.
Menurutnya, bencana banjir yang melanda Kota Mataram pada 6 Juli 2025 menjadi pelajaran berharga bagi Museum NTB untuk selalu waspada menghadapi musim penghujan.
"Musim hujan kali ini tantangannya tambah berat karena beberapa bulan lalu Kota Mataram sempat banjir. Saat itu museum terdampak, tapi dengan kerja gotong royong akhirnya air tidak bisa masuk dan tidak menggenangi koleksi kami," pungkas Nuralam.
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Nusa Tenggara Barat saat ini telah memasuki musim penghujan. Cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang yang disertai petir berpotensi melanda selama sepekan ke depan.
Baca juga: Museum NTB boyong koleksi wastra dalam pameran keliling di Sumbawa
BMKG menyebut ada empat faktor yang memicu curah hujan tinggi di wilayah Nusa Tenggara Barat, yakni fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif dan kemunculan gelombang kelvin, sehingga berdampak terhadap peningkatan curah hujan.
Faktor pemicu lainnya adalah kemunculan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa Timur yang membentuk pertemuan angin dan belokan angin di sekitar wilayah Nusa Tenggara Barat. Gerakan angin yang berputar tersebut menarik udara lembap dan membentuk awan, sehingga berpotensi menyebabkan hujan lebat.
BMKG menyatakan kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai ketinggian serta labilitas atmosfer kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal turun menjadi pemicu curah hujan tinggi di Nusa Tenggara Barat.
Baca juga: Museum desa rawat memori kolektif manusia
Baca juga: Museum NTB pamerkan koleksi sejarah gunung purba di Rinjani Color Run
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































