Murid pukul guru dan sastra pendidikan untuk kuatkan karakter

1 week ago 7
... sastra sesungguhnya sebuah simulator jiwa dan pikiran sehingga memberikan pendidikan simulatif bagi para siswa.

Surabaya (ANTARA) - Kasus viral seorang guru SMK dikeroyok murid-muridnya di Jambi sangatlah memprihatinkan.

Sebelumnya, juga di Jambi, kasus ibu guru SD yang memangkas rambut pirang muridnya, berujung pada status tersangka yang sangat menggemaskan. Bagaimana bisa murid-murid mutakhir cenderung sensitif, emosional, dan kurang etika secara sosial?

Andaikan murid-murid itu "gila sastra", dipastikan dua ironi pendidikan itu tidak akan terjadi. Sebab, sastra itu bisa melembutkan hati, menstabilkan emosi, serta menciptakan simulasi pikiran yang menyadarkan.

Sastra pendidikan, sebagaimana sastra horor, sastra pariwisata, sastra rempah, dan sastra maritim; hakikatnya merupakan bidang interdisipliner, yang menghubungkan dua bidang ilmu. Sastra pendidikan juga bersifat interdisipliner.

Hakikat sastra pendidikan, merupakan karya sastra yang kuat substansi nilai edukasinya. Dalam momentum Hari Pendidikan Internasional (HPI), 24 Januari 2026, menarik dipikirkan perlunya terobosan baru, salah satunya mendekatkan sastra pendidikan di sekolah untuk penguatan karakter peserta didik yang lebih beradab. Artinya, sastra menjadi urgen dijadikan media pendidikan moral, karakter, jiwa, dan spiritualitas anak didik, agar moralitas dan karakter mereka terbentuk secara infiltratif, menyelinap secara tidak sadar.

Pengalaman penulis berbicara, murid yang akrab sastra memiliki kualitas emosi, kematangan mental, kecerdasan berpikir, dan kualitas spiritualitas, berbeda jika dibandingkan murid yang tidak suka sastra. Sebuah tesis empirik yang menarik dieksplorasi lebih jauh.

Murid suka sastra dan tidak, karakter dan mentalitas bak bumi dan langit. Sastra pendidikan jelas menawarkan panorama pergulatan sastra yang indah dan bermanfaat. Serupa taman indah, keindahannya berisi tumbuhan nilai spiritualitas yang asyik dipetik.

Di sinilah, istilah "dulce et utile" dari Horatius, yang dikutip Teeuw dalam buku "Sastra dan Ilmu Sastra", menarik direnungkan. Sastra harus "menyenangkan dan bermanfaat". Sebuah konsep klasik, yang mengingatkan bagaimana sastra harus berkontribusi, bukan saja pada kenikmatan (dulce), tetapi juga menghadirkan nilai edukatif moral (utile) bagi pembacanya.

Pesan filososif sastra pendidikan akan menyadarkan pentingnya karya sastra untuk mampu berbicara lembut tentang nilai-nilai pendidikan. Hal ini, sebagaimana seni film, yang dikenal dengan film pendidikan, yang populer di masyarakat lebih awal.

Baca juga: Pentingnya sastra lingkungan

Baca juga: Gol A Gong usulkan membaca sastra wajib di sekolah

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |