Nusantara (ANTARA) - Di tengah deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia, terselip sebuah komitmen besar yang tak kalah penting, yakni membangun kota yang tumbuh selaras dengan alam.
Bukan sekadar membangun di atas hutan, melainkan membangun bersama hutan. Itulah visi yang terus diusung Otorita IKN dan diwujudkan melalui berbagai aksi nyata, termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 yang mengusung semangat “Saatnya Beraksi untuk Iklim”.
Langkah pemulihan lingkungan dimulai dari kawasan yang paling menantang, yakni lahan bekas tambang. Bersama Kementerian Kehutanan, Otorita IKN menjalin kerja sama strategis untuk merehabilitasi kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.
Dulu, kawasan ini menyisakan luka ekologis berupa lubang-lubang tambang, lahan tandus, dan ancaman kerusakan lingkungan. Kini, berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikannya menjadi hutan produktif, kawasan resapan air, sekaligus habitat bagi satwa liar.
Otorita IKN menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama Kementerian Kehutanan, guna memulihkan kawasan bekas tambang di Tahura Bukit Soeharto.
Upaya tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan IKN sebagai kota hutan bertaraf dunia, dengan komitmen menyediakan 65 persen wilayahnya sebagai ruang hijau untuk menghidupkan kembali ekosistem hutan hujan tropis yang lestari.
Proses rehabilitasi dilakukan secara bertahap dan membutuhkan kesabaran. Tahapannya dimulai dari pemetaan kawasan, pengukuran kedalaman lubang bekas tambang, hingga penimbunan dan perataan lahan.
Saluran drainase diperbaiki untuk mencegah genangan, sementara kesuburan tanah yang rusak dipulihkan dengan melibatkan para ahli.
Penanaman dilakukan secara bertahap. Jenis pohon cepat tumbuh seperti akasia dan sengon ditanam lebih dahulu untuk menahan erosi dan menutup lahan terbuka. Setelah itu, spesies endemik Kalimantan seperti meranti, ulin, dan kapur akan dikembalikan agar ekosistem dapat pulih mendekati kondisi alaminya, dengan dukungan bibit berkualitas dari Balai Pembenihan Hutan.
Upaya pemulihan tidak berhenti pada penanaman. Pengelolaan air dan pengendalian erosi juga dilakukan melalui pembangunan cekdam, kolam retensi, serta pencegahan rembesan air asam tambang ke sungai-sungai di sekitar kawasan.
Pemantauan pertumbuhan tanaman dilakukan secara berkala setiap tiga hingga enam bulan. Pengawasan ketat juga terus dilakukan untuk memastikan aktivitas penambangan liar tidak kembali terjadi.
Masyarakat setempat pun dilibatkan secara langsung sebagai pelaksana dan pemelihara kawasan. Mereka juga didorong menanam komoditas bernilai ekonomi seperti karet, aren, dan berbagai tanaman buah.
“Giat ini memiliki banyak manfaat. Selain memulihkan alam, juga menjadi upaya menyejahterakan warga serta mendukung program Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah),” ujar Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono.
Baca juga: Otorita jaga kawasan hutan untuk fondasi IKN sebagai kota hutan
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































