Jakarta (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyebut sudah menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) ke 33 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di akhir tahun 2025.
"Ini kami melihat secara langsung penyaluran BLTS pada hari terakhir tahun 2025. Data yang sudah terverifikasi per hari ini sudah lebih dari 33 juta dan sudah bisa disalurkan secara bertahap, baik lewat bank Himbara maupun lewat PT Pos Indonesia," kata Gus Ipul, sapaan Saifulllah Yusuf saat meninjau penyaluran BLTS di Kantor Pos Cikini, Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan BLTS telah disalurkan melalui PT Pos kepada 18 juta KPM, sisanya sekitar 17 juta KPM disalurkan lewat bank Himbara. PT Pos terus memaksimalkan pendataan di kantor-kantor cabang seluruh Indonesia dan menargetkan 100 persen BLTS tahun 2025 tersalurkan pada KPM hingga malam ini.
Baca juga: Pos Indonesia targetkan pertengahan Desember penyaluran BLTS tuntas
"Hari libur pun PT Pos berusaha untuk terus menyalurkan selama dua bulan terakhir ini dan sampai sekarang terus berlangsung sampai nanti malam. Khusus di Jakarta Pusat ini menyalurkan untuk sekitar 71 ribu KPM, yang melalui Cikini sekitar seribu berdasarkan data yang terakhir, mudah-mudahan bisa tuntas sampai nanti malam," ujar Mensos Saifullah Yusuf.
Gus Ipul mengemukakan penyaluran BLTS ini sudah melalui verifikasi dan validasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dengan data yang dimutakhirkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Dinas Sosial dan seluruh pemerintah daerah.
"Kami terus lakukan ini dengan membuka berbagai saluran. Saluran pertama, tentu yang formal mulai dari RT/RW, nanti ke kelurahan atau ke desa yang diolah lewat operator desa, setelah itu dinaikkan ke Dinas Sosial, bupati, wali kota, langsung naik ke atas dan nanti akan diolah hasilnya oleh BPS," tutur Mensos.
Baca juga: Mensos tegaskan bantuan dari pemerintah tak boleh digunakan buat judol
Seorang penerima manfaat, Fiqri (30) asal Kwitang, Jakarta Pusat yang tinggal bersama anak dan istrinya mengaku senang namanya termasuk ke dalam penerima BLTS.
Fiqri termasuk salah satu karyawan yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) setelah sebelumnya bekerja di restoran.
"Saya tinggal di rumah mertua, sudah satu tahun tidak bekerja. Selama ini mengandalkan kerja sampingan seperti jual baju. Pendapatannya harian, tidak pasti dan tidak tentu," tuturnya.
Baca juga: Menkeu berharap BLTS dapat tersalurkan sepenuhnya pada November 2025
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































