Jakarta (ANTARA) - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan hingga saat ini belum ada perubahan resmi terkait kesepakatan besaran tarif dengan Amerika Serikat.
Ia menyebut tidak ada angka pasti dari target penurunan tarif timbal balik dengan Amerika Serikat. Menurut Prasetyo, peluang tersebut masih terbuka, terutama melalui komunikasi antar Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"Kita hanya melihat negara-negara lain aja. Kalau ada yang bisa turun, 18 (persen) ya. Mungkin kita pengin turun ke 18. Tapi kan bukan kita yang menentukan hal tersebut, tapi bagian dari upaya untuk bernegosiasi kan terus kita lakukan," kata Prasetyo di Jakarta, Rabu.
Mensesneg menyampaikan hingga saat ini belum ada perubahan dengan besaran tarif yang ditetapkan untuk Indonesia, yakni 19 persen.
Terkait kemungkinan adanya tawaran baru dari Indonesia untuk menekan tarif lebih rendah, ia menyebut poin-poin yang selama ini diajukan pada dasarnya sudah menjadi bagian dari pembahasan awal.
Meski begitu, dinamika tetap bisa berkembang dalam komunikasi langsung kedua pemimpin.
"Kalaupun kita ingin ada penurunan lagi, ya kita serahkan kepada dua pemimpin ini, barangkali nanti dalam proses komunikasinya. Tidak menutup kemungkinan, karena hubungan baik kedua pemimpin ini mungkin ada perubahan kebijakan kita tidak tahu," imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat untuk menghadiri tiga agenda.
Agenda pertama, yaitu pertemuan dengan kelompok pebisnis Amerika Serikat pada Rabu (18/2), kemudian konferensi tingkat tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) Gaza pada Kamis (19/2).
Selanjutnya, Presiden Prabowo akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, salah satunya untuk menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik (agreement on reciprocal trade/ART), yang negosiasinya telah berjalan sejak 2025.
Dalam perjanjian ini, Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk-produk Amerika Serikat, mengatasi berbagai hambatan non-tarif, memperkuat kerja sama bidang perdagangan digital dan teknologi, keamanan nasional, dan kerja sama komersial lainnya.
Amerika Serikat berkomitmen memberi pengecualian tarif bagi sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, di antaranya minyak kelapa sawit, kakao, kopi, teh, dan komoditas strategis lainnya.
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia / Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































