Bandarlampung (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyebutkan bahwa berbagai tantangan pada awal penyelenggaraan sekolah rakyat (SR) kini mulai teratasi.
"Berbagai tantangan pada awal penyelenggaraan kini mulai teratasi. Bulan pertama dan kedua memang cukup berat, tetapi sekarang kondisinya jauh lebih baik," ujar Mensos saat mengunjungi Sekolah Rakyat di Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Minggu.
Bahkan, lanjut dia, para guru dan siswa sudah mulai betah melakukan proses belajar dan mengajar di sekolah rakyat, tentu hal ini menjadi modal penting untuk keberlanjutan program.
"Alhamdulillah pembelajaran di sini berjalan dengan baik. Kami melihat langsung bagaimana guru mengajar, bagaimana kedisiplinan diterapkan, serta pelaksanaan SOP dalam penyelenggaraan sekolah rakyat,” katanya.
Baca juga: Anggota DPR dorong Sekolah Rakyat dari anak jalanan berkelanjutan
Ia menjelaskan, sekolah rakyat memiliki karakteristik siswa yang sangat beragam, dengan mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan ada dari mereka yang belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali.
“Ada siswa yang cepat mengikuti pembelajaran, tapi ada juga yang sudah setingkat SMA namun belum bisa membaca. Ini menjadi tantangan besar bagi guru dan tenaga kependidikan. Meski demikian, kami mengapresiasi kolaborasi antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan pemerintah daerah dalam menghadapi dinamika tersebut," kata dia.
Dia pun menyampaikan bahwa Kementerian Sosial terus melakukan evaluasi dan pengawasan secara berkala terhadap program sekolah rakyat agar tata kelolanya semakin baik.
"Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga terus dilakukan melalui berbagai pelatihan bagi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan," katanya.
Baca juga: Mensos tegaskan program Sekolah Rakyat sasar keluarga miskin
Pada sisi lain, Mensos juga mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen siswa Sekolah Rakyat memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Sementara 25 persen lainnya diarahkan untuk masuk dunia kerja, termasuk melalui skema koperasi desa atau kelurahan yang saat ini tengah dibahas bersama kementerian terkait," kata dia.
Gus Ipul juga menyampaikan saat ini masih banyak anak usia sekolah yang tidak melanjutkan pendidikan, khususnya pada lulusan SMP.
"Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Nah sekolah rakyat ini menjadi salah satu solusi, meskipun belum bisa menampung semuanya karena keterbatasan kuota. Ke depan, kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan ini,” kata dia.
Baca juga: Seskab Teddy terima pesan warga untuk Presiden terkait Sekolah Rakyat
Pewarta: Dian Hadiyatna
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































