Menjemput rindu di jalur sunyi Lintas Timur Sumatera

6 hours ago 3

Palembang (ANTARA) - Di saat ribuan orang sibuk berburu tiket pesawat dengan harga yang terus melambung atau terjebak dalam antrean panjang di pelabuhan, Verisa Novri justru memilih jalan yang berbeda. Pria berusia 50 tahun itu mengambil “jalur sunyi” demi satu tujuan sederhana, pulang dan menjemput rindu kepada orang tuanya di Palembang.

Di atas sadel sepeda, dengan perlengkapan sederhana yang terikat di bagasi belakang, jurnalis foto Xinhua, media asal China, ini memulai perjalanan panjang dari Tangerang Selatan menuju Palembang. Tidak ada kemewahan, tidak ada kenyamanan kursi empuk, hanya tekad, tenaga, dan keyakinan pada setiap kayuhan.

Jarak sekitar 400 kilometer ia tempuh bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang sarat makna. Bagi Verisa, mudik bukan hanya soal tiba di kampung halaman, tetapi tentang bagaimana proses menuju ke sana dijalani dengan kesadaran penuh.

“Saya ingin merasakan setiap kilometer perjalanan, menyapa waktu, dan membiarkan diri larut dalam ritme kayuhan yang perlahan namun pasti,” ujar Verisa saat ditemui di bawah kerlip lampu Jembatan Ampera, Palembang, sehari sebelum Lebaran.

Seorang pemudik Verisa Novri (50) yang menggunakan sepeda dengan rute Tangerang Selatan-Palembang saat dibincangi di Jembatan Ampera, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (20/3/2026) malam. (ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri)

Perjalanan itu dimulai pada Selasa pagi, 17 Maret 2026. Dari hiruk-pikuk Tangerang Selatan, Verisa mengayuh menuju Pelabuhan Merak. Ia kemudian menyeberangi Selat Sunda sebelum akhirnya menginjakkan roda di Pulau Sumatera. Sejak saat itu, Jalur Lintas Timur (Jalintim) menjadi jalur utama yang ia lalui.

Bagi sebagian orang, Jalintim hanyalah jalan panjang yang melelahkan. Namun bagi Verisa, jalur tersebut adalah ruang kontemplasi. Di sanalah ia berdialog dengan dirinya sendiri, menguji batas fisik, sekaligus menemukan ketenangan yang sulit didapat di tengah keramaian kota.

Perjalanan ini tentu tidak mudah. Ia harus menghadapi panas terik matahari yang membakar kulit, terpaan angin kencang, serta debu pekat dari truk-truk besar yang melintas tanpa henti. Jalan yang panjang dan monoton kerap menguji fokus dan ketahanan mental.

Di beberapa titik, ia juga harus menaklukkan tanjakan panjang yang membelah hamparan perkebunan sawit. Setiap kayuhan terasa semakin berat, otot kaki menegang, dan napas kian tersengal. Namun justru di situlah ia menemukan esensi perjalanan bahwa setiap rasa lelah memiliki makna.

“Bersepeda memberikan kepuasan tersendiri dan fleksibilitas waktu. Tantangannya memang cuaca panas, tapi di situlah kesabaran dan konsistensi diuji,” kata dia.

Mudik bersepeda bukan pengalaman pertama bagi Verisa. Ia pernah menempuh rute sebaliknya, dari Palembang ke Tangerang Selatan pada 2018, dan kembali mengulang pengalaman serupa pada tahun-tahun berikutnya. Baginya, sepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium untuk memahami perjalanan hidup.

Selain menghindari kemacetan yang kerap terjadi menjelang Lebaran, perjalanan ini juga terbilang hemat. Selama empat hari di perjalanan, Verisa hanya menghabiskan sekitar Rp350.000. Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan dasar seperti air minum dan menyewa losmen sederhana untuk beristirahat.

Namun, penghematan bukanlah motivasi utamanya. Yang ia cari adalah kebebasan. Dengan sepeda, ia tidak terikat jadwal, tidak dikejar waktu. Ia bisa berhenti kapan saja saat lelah, saat lapar, atau saat menemukan pemandangan yang menarik untuk diabadikan.

Sebagai seorang jurnalis foto, instingnya selalu aktif. Ia kerap berhenti untuk memotret lanskap pedesaan, jalanan panjang yang membelah hamparan hijau, hingga aktivitas warga yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Setiap potret menjadi bagian dari cerita yang ia kumpulkan.

Demi menjaga keselamatan, Verisa memiliki prinsip untuk hanya bersepeda saat hari masih terang. Ketika senja mulai turun, ia akan mencari tempat singgah seperti masjid, kantor polisi, atau rest area. Di sana, ia beristirahat, membersihkan diri, serta mengisi daya ponsel sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Kemanusiaan di jalanan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |