Menjelajah Taman Nasional Kutai, orangutan hingga Goa Sampemarta

6 days ago 5
Semakin jauh perahu merangsek masuk, suasana kian hening

Kutai Timur (ANTARA) - Mengeksplorasi hutan pelestarian sama halnya dengan membuka ruang renung tentang betapa besar maha karya pencipta yang telah memberikan sumber-sumber penghidupan bagi manusia, termasuk sisi keanekaragaman hayati yang harus dilindungi demi menjaga keseimbangan bumi.

Hal itu tersirat saat menjelajahi alam Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang bukan melulu soal lahan tambang raksasa atau riuh industri ekstraktif yang menggerakkan ekonomi negara. Kabupaten ini menghadirkan pula detak alam liar yang masih murni, berdegup di dalam rimbun kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).

Untuk menjajaki pesona hutan pelestarian itu, tidak bisa hanya mengandalkan literatur atau membaca peta dari layar gawai. Perlu merasakannya sendiri, membiarkan kulit tersengat matahari tropis, menghirup aroma tanah basah, dan mempersiapkan diri menapaki rute alam yang rimbun.

"Turis dari mancanegara kerap menjelajahi hutan ini, mulai dari Prancis hingga Belgia, untuk sekadar meneliti satwa endemik orangutan," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri.

Perjalanan mengeksplorasi potensi wisata minat khusus di Taman Nasional Kutai ini bukan seperti rekreasi biasa. Ini adalah sebuah ekspedisi untuk meraba kembali ekosistem daratan Kalimantan yang sesungguhnya.

Rute penjelajahan dibagi menjadi dua titik utama yang menjanjikan pengalaman visual dan emosional, dari hutan Prevab Mentoko dengan dinamika satwa endemik dan gelap lorong purba di dasar Goa Sapemarta.

Perjalanan dimulai menuju Prevab Mentoko dengan membelah sungai Sangatta menggunakan ketinting, perahu kayu bermesin khas perairan Kalimantan. Ketika gerak ketiting memecah riak air kecokelatan, lanskap peradaban perkotaan perlahan tertinggal di belakang. Perjalanan ditempuh dengan perahu sepanjang Sungai Sangatta selama 30 menit dari Dusun Kabo, Sangatta.

Di sisi kiri dan kanan, pemandangan alam yang masih asri melewati perkampungan senyap di tepian sungai, menyapa deretan kapal kayu nelayan yang berlabuh menanti hasil tangkapan. Gemericik air dan suara mesin kapal bak pengiring yang mengantarkan perjalanan menjauhi kebisingan kota.

Semakin jauh perahu merangsek masuk, suasana kian hening. Tujuan pertama adalah Prevab Mentoko, sebuah hutan penelitian ekologi dan destinasi ekowisata yang berdiri di kawasan Taman Nasional Kutai.

"Bagi para peneliti konservasi dan pencinta ekowisata, Prevab adalah pesona rimba yang menyenangkan. Di sini, satwa liar endemik Kalimantan adalah tuan rumah seutuhnya, dan manusia hanyalah tamu yang wajib menjaga tata krama," ungkap Syaiful.

Eksplorasi di Prevab menuntut kejelian mata dan kepekaan telinga. Di sela-sela tajuk pohon meranti yang menjulang tinggi, pesona orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) kerap menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.

Pongo pygmaeus morio atau orangutan kalimantan timur laut merupakan subspesies endemik berstatus sangat terancam punah (Critically Endangered) yang mendiami hutan hujan tropis dataran rendah di Taman Nasional Kutai (TNK), terutama di kawasan Prevab dan Sangkima. ANTARA/HO-Balai TNK

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |