Menjaga momentum ekonomi dengan memperkuat daya beli rakyat

3 hours ago 2
Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan tersebut dirasakan oleh rakyat dalam bentuk pekerjaan yang layak, harga yang terjangkau, dan kehidupan yang semakin sejahtera

Surabaya (ANTARA) - Perekonomian Indonesia memasuki babak baru. Tahun 2025 menjadi penanda penting ketika ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,11 persen. Angka ini bukan hanya menunjukkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, tetapi juga mencerminkan bahwa mesin konsumsi dan investasi nasional masih bekerja relatif baik.

Bahkan, capaian tersebut dinilai lebih baik dibanding sejumlah kawasan besar dunia dalam periode yang sama.

Lebih dari itu, Indonesia juga mencatat tonggak sejarah baru ketika produk domestik bruto (PDB) per kapita untuk pertama kalinya menembus angka 5.000 dolar AS per tahun. Pencapaian ini menandai bahwa struktur ekonomi nasional sedang bergerak menuju fase yang lebih matang dan berpotensi memperluas kelas menengah.

Hanya saja, di balik capaian makro tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar, yaitu sejauh mana pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan rata-rata tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, terutama kelompok bawah dan rentan?

Di sinilah pentingnya melihat daya beli rakyat sebagai indikator yang lebih substantif daripada sekadar angka pertumbuhan.

Daya beli masyarakat merupakan cerminan langsung dari kemampuan ekonomi rumah tangga. Ketika daya beli menguat, konsumsi meningkat, sektor produksi bergerak, dan lapangan kerja terbuka. Sebaliknya, ketika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan fondasi terpentingnya, yaitu permintaan domestik.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti penguatan daya beli hanya menghasilkan kemajuan semu. Statistik makro membaik, tetapi kesejahteraan riil masyarakat berjalan lambat.

Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto. Artinya, kekuatan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk membelanjakan pendapatannya secara sehat dan berkelanjutan.

Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi sektor informal. Sebagian besar masyarakat bekerja dengan pendapatan tidak tetap dan perlindungan sosial yang terbatas. Dalam situasi seperti ini, kenaikan harga pangan, energi, atau transportasi dapat dengan cepat menggerus kemampuan konsumsi rumah tangga.

Karena itu, keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen harus dibaca sebagai momentum yang perlu dijaga, bukan sekadar angka yang disyukuri. Pertumbuhan yang baik harus diikuti dengan kebijakan yang mampu memperkuat daya beli masyarakat secara nyata.

Pencapaian PDB per kapita di atas 5.000 dolar AS juga membawa konsekuensi baru. Secara ekonomi, capaian ini menandai pergeseran struktur konsumsi masyarakat. Rumah tangga tidak lagi hanya membelanjakan pendapatan untuk kebutuhan dasar, tetapi mulai meningkatkan konsumsi barang dan jasa bernilai tambah lebih tinggi. Kondisi ini membuka peluang pertumbuhan sektor industri, jasa, dan ekonomi kreatif.

Bersifat inklusif

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |