Menghabiskan libur Imlek dengan berkeliling festival kuil di Beijing

3 hours ago 5

Beijing (ANTARA) - Libur Musim Semi atau yang lebih dikenal sebagai Tahun Baru Imlek adalah perayaan paling istimewa di China, tak hanya karena masyarakat Tiongkok mendapat libur lebih dari sepekan, tapi juga karena kekayaan tradisi dan budaya saat hari raya itu.

Catatan sejarah menunjukkan asal-usul Tahun Baru Imlek, hingga sekitar 2000 SM, yaitu pada hari pertama penanggalan lunar berdasarkan kalender yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han.

Meski perayaan di masing-masing kekaisaran berbeda-beda serta beragam catatan mitologis, tapi semuanya mengerucut pada sosok "Nian" yang berarti "tahun" dalam bahasa China kontempror. Kata itu, pada masa lampau diartikan sebagai makhluk mengerikan dengan mulut besar yang muncul setiap malam tahun baru untuk meneror manusia.

Pada suatu hari ada seorang pendekar yang mampu mengalahkan Nian, berpesan kepada penduduk agar memasang jimat kertas merah di pintu rumah dan menyalakan petasan setiap akhir tahun agar Nian tidak datang lagi karena binatang itu tidak suka suara keras dan warna merah.

Frasa "guo nian" (过年), yang awalnya berarti "selamat dari Nian," telah bergeser maknanya menjadi "merayakan Tahun Baru", mencerminkan konotasi ganda dari karakter "guo" (过) yang berarti baik, "melewati" maupun "merayakan."

Dekorasi serba merah dan menyalakan petasan masih bertahan, tapi fungsi sebagai penolak bala tentu sebagian besar memudar, diganti dengan aktivitas yang lebih meriah menyambut tahun yang baru, misalnya kegiatan festival kuil, utamanya di Beijing

Festival kuil

Jauh sebelum dikenal sebagai tempat hiburan dan jual-beli, cikal bakal festival kuil adalah ritual pemujaan dalam masyarakat agraris kuno kepada dewa-dewi alam untuk meminta perlindungan dan hasil panen melimpah.

Festival Kuil Dongyue di Distrik Chaoyang, Beijing (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Dalam upacara tersebut, musik dan tarian pun menjadi bagian tak terpisahkan, sehingga menjadi awal adanya pertunjukan dalam festival kuil.

Selain itu, interaksi sosial dan ekonomi juga mulai terjalin karena orang-orang berkumpul dan memanfaatkan momen tersebut untuk saling bertukar barang.

Masuknya agama Buddha ke China pada abad pertama Masehi dan perkembangan Taoisme pada periode yang sama menjadi titik balik karena demi merebut hati masyarakat, kedua agama tersebut gencar membangun kuil dan menciptakan berbagai kegiatan keagamaan yang menarik.

Salah satu kegiatan yang digelar adalah ritual "行像" (xíng xiàng), yaitu arak-arakan patung dewa yang dihias menggunakan kereta warna-warni berkeliling kota, diiringi musik, tarian, dan berbagai atraksi akrobat meriah. Akibatnya, halaman kuil dan sekitarnya berubah menjadi pusat keramaian yang mempertemukan elemen religi, hiburan, dan semakin banyaknya pedagang di areal itu.

Puncak kejayaan festival kuil di Beijing terjadi pada masa Dinasti Ming (1368–1644) dan Qing (1644–1911) karena festival kuil tak lagi soal kegiatan agama, tapi bergeser menjadi pusat perayaan publik, interaksi sosial, kegiatan ekonomi dan hiburan bagi masyarakat dari berbagai kalangan.

Tradisi "逛庙会" (guàng miàohuì) atau jalan-jalan santai menikmati suasana festival kuil saat Imlek, telah mengakar kuat dalam budaya Beijing, hingga saat ini.

Setelah sempat terhenti selama beberapa dekade pada masa Revolusi Kebudayaan, tradisi ini mulai dihidupkan kembali pada 1985 dan terus berkembang menjadi perayaan budaya yang tak terpisahkan dari Tahun Baru Imlek di Beijing modern.

Festival Kuil Ditan di Distrik Dongcheng, Beijing (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |