Jejak Olimpiade dongkrak pariwisata dan industri di Kota Ski China

2 hours ago 1

Shijiazhuang (ANTARA) - Pada Rabu (18/2) di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026, bintang freeski aerials China Xu Mengtao melayang setelah melakukan serangkaian lompatan menakjubkan untuk mempertahankan gelar Olimpiadenya, menyajikan performa yang mengingatkan pada kemenangan bersejarahnya di Beijing empat tahun lalu, momen yang masih tergambar jelas dalam ingatan banyak orang.

Di belahan dunia lain, di Genting Snow Park di Distrik Chongli, Kota Zhangjiakou, Provinsi Hebei, China utara, lereng tempat Xu menorehkan sejarah pada 2022 kini penuh dengan suasana semarak sepanjang tahun.

Saat ini, Genting Snow Park, yang terletak sekitar 200 kilometer di sebelah barat laut Beijing, menjadi tuan rumah dalam lebih banyak kompetisi dibanding sebelumnya, dengan jumlah pertandingan meningkat 30 persen setiap tahun sejak Olimpiade Musim Dingin Beijing.

Arena tersebut juga menyambut sekitar 6.000 pengunjung setiap hari selama musim salju 2025-2026 yang dimulai pada November.

Setelah Olimpiade Beijing berakhir empat tahun lalu, resor tersebut menghadapi tantangan untuk mengubah momen kejayaan yang singkat menjadi warisan jangka panjang.

Untuk menarik pemain ski rekreasional, Genting Snow Park merancang ulang tiga dari enam lintasan Olimpiade-nya, menurunkan tingkat kesulitan tanpa mengurangi sensasinya. Kini, 45 jalur membentang di seluruh resor tersebut, dengan 42 di antaranya diperuntukkan bagi pemain ski pemula serta berpengalaman, hingga mereka yang menggemari kegiatan pemacu adrenalin.

Bagi pengunjung tetap seperti Zhang Ye (61), kenyamanan yang dirasakan sungguh tak tertandingi. Pensiunan asal Beijing itu bermain ski setiap pekan. "Hanya satu jam dengan kereta cepat dan 10 menit dengan transportasi antar jemput (shuttle) ke resor. Sangat praktis," ujarnya sambil memasang perlengkapan ski.

Chongli sendiri telah bertransformasi demi memenuhi permintaan dari lonjakan pengunjung. Pada 2025, lebih dari 10 juta wisatawan datang ke distrik tersebut.

Bus ekspres kini menghubungkan bandara-bandara Beijing dan Stasiun Kereta Selatan langsung ke resor, sementara shuttle gratis menghubungkan stasiun kereta ke lereng, sehingga sebagian besar menghilangkan masalah "distribusi terakhir".

Foto yang diambil pada 15 Januari 2026 ini menunjukkan Qu Xiaotong, seorang fotografer ski, sedang mengambil gambar di Distrik Chongli, Kota Zhangjiakou, Provinsi Hebei, China. (Bi Chunhua/Handout via Xinhua)

Namun, ambisi distrik tersebut tak hanya terbatas pada kegiatan musim dingin. Dengan suhu yang sejuk dan cakupan hutan lebih dari 70 persen, Chongli mengembangkan daya tarik sepanjang tahun melalui aktivitas musim panas dan gugur seperti bersepeda gunung, pendakian (hiking), dan berkemah, sembari mengalihfungsikan venue Olimpiade menjadi taman luar ruangan dan kamp edukasi.

Sebagai contoh, Snow Ruyi Ski Resort memasang kereta gantung wisata dan wahana menuruni hutan yang memungkinkan pengunjung untuk menentukan kecepatan sendiri.

Pariwisata musim panas pada 2025 saja menarik 5,1 juta pengunjung ke Chongli, lebih banyak dibandingkan saat musim dingin, menghasilkan pendapatan pariwisata sebesar 4,42 miliar yuan (1 yuan = Rp2.443).

Sekitar 30.000 orang menggeluti olahraga musim dingin atau bisnis pariwisata di Chongli, dan 80 persen di antaranya tetap bekerja sepanjang tahun, kata data resmi.

Chongli memberikan gambaran lebih luas tentang pesatnya perkembangan industri es dan salju di China.

Menurut Laporan Perkembangan Ekonomi Es dan Salju China 2025, sektor ini tumbuh dari 364,7 miliar yuan pada 2016 menjadi lebih dari 1 triliun yuan pada 2025, dengan partisipasi pariwisata musim dingin melampaui 300 juta orang selama tiga musim berturut-turut.

Antusiasme yang bertahan lama ini mendorong terbentuknya rantai nilai lengkap yang mencakup manufaktur peralatan, penyelenggaraan acara, layanan pelatihan, dan pariwisata.

Dapat dicapai dengan menempuh sekitar dua jam perjalanan berkendara dari Chongli, Kawasan Industri Perlengkapan Es dan Salju Xuanhua memanfaatkan momentum tersebut.

Di kawasan industri itu, merek papan seluncur salju China yang didirikan pada 2003, Lidakis, memiliki gudang yang dipenuhi produk papan, sepatu bot dan perlengkapan lainnya, baik untuk resor dalam negeri maupun pelanggan luar negeri.

"Dua puluh tahun lalu, papan seluncur salju baru masuk ke pasar China, dan hanya sedikit orang yang membelinya," kata Jin Huiyuan (68), CEO Lidakis.

"Contohnya papan untuk anak-anak. Sebelum 2015, 100 papan terjual dalam tiga tahun. Per 2016, 3.000 tidak cukup. Saat Olimpiade Musim Dingin 2022, bahkan 10.000 pun tidak mampu memenuhi permintaan," ungkapnya.

Seiring meningkatnya siaran langsung daring (online livestreaming), Jin kini memperluas jalur penjualan langsung ke konsumen Lidakis.

"Jumlah pesanan yang saya terima setiap bulan sekarang setara dengan yang saya tangani sepanjang musim salju pada periode awal saya di bidang ini," kata Qu Xiaotong, fotografer ski berusia 32 tahun, seraya menambahkan bahwa meningkatnya basis penggemar olahraga musim dingin di China menjadi pendorong utama bisnisnya.

"Pertumbuhan olahraga musim dingin di China, terutama setelah Olimpiade Beijing 2022, telah mengubah segalanya, pekerjaan saya, industri ini, bahkan cara orang menikmati salju. Rasanya seperti Olimpiade tidak pernah berakhir," ujar Qu.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |