Mengelola manusia dengan rasa

1 month ago 36
Memaknai akhir tahun semata sebagai penutupan administrasi adalah penyederhanaan. Ia seharusnya juga menjadi momen untuk menimbang kembali cara perusahaan memperlakukan manusianya.

Jakarta (ANTARA) - Mengelola manusia tidak cukup dengan target dan indikator. Di balik angka dan laporan kinerja, ada manusia dengan ritme, batas, dan daya tahan. Mari melihat kembali pentingnya unsur “rasa” dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Akhir tahun kerap dipahami sebagai fase penutup. Dalam banyak organisasi/perusahaan/lembaga/instansi, akhir tahun menjadi penanda selesainya satu siklus kerja sekaligus ruang jeda sebelum memasuki ritme baru.

Pada titik ini, evaluasi idealnya berfungsi sebagai cermin, bukan palu. Ia membantu organisasi membaca kembali proses, capaian, dan tantangan, sambil memberi ruang bernapas bagi manusia yang menggerakkannya.

Namun, dalam praktik manajemen modern, makna akhir tahun tidak selalu sesederhana itu. Di sejumlah kantor, fase ini justru mengalami pergeseran fungsi.

Alih-alih menjadi ruang refleksi, ia berubah menjadi momen penajaman disiplin kinerja. Ukuran keberhasilan dipadatkan dalam angka, tenggat, dan capaian, sementara dimensi manusiawi kerja perlahan tersisih dari pembacaan.

Pergeseran ini sering kali berlangsung halus, nyaris tak terasa. Bahasa yang digunakan tetap normatif, kebijakan dikemas rapi, dan tujuan disampaikan atas nama profesionalisme.

Akan tetapi, bagi manusia kerja, perubahan tersebut hadir sebagai intensifikasi ritme. Beban bertambah, jeda menyempit, dan kelelahan diterima sebagai konsekuensi yang wajar, bahkan seolah tak perlu dibicarakan.

Di sinilah pentingnya rasa dalam pengelolaan manusia. Rasa bukanlah sentimen personal atau kelembekan manajerial, melainkan kepekaan dalam membaca konteks kerja secara utuh.

Ia membantu organisasi membedakan antara dorongan untuk meningkatkan kinerja dan kecenderungan menormalisasi tekanan. Tanpa rasa, kebijakan mudah terjebak pada logika satu arah: angka naik, persoalan selesai.

Padahal kerja tidak hanya menghasilkan output, tetapi juga meninggalkan jejak pada manusia yang menjalaninya. Ritme yang terlalu padat, tuntutan yang terus meningkat, dan absennya ruang pemulihan akan membentuk akumulasi kelelahan.

Dalam jangka pendek, ia mungkin tak terlihat. Dalam jangka panjang, ia memengaruhi daya tahan, kualitas keputusan, dan keberlanjutan organisasi itu sendiri.

Baca juga: Kemnaker ingin SDM yang dapat mengelola masalah ketenagakerjaan

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |