Menciptakan peluang kesejahteraan petani kopi Indonesia

2 weeks ago 10
Harapannya, ke depan setiap cangkir kopi Indonesia tak hanya kaya rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang petani yang hidupnya kian sejahtera.

Jakarta (ANTARA) - Indonesia kerap dijuluki surga kopi dunia. Dari Gayo di Aceh hingga Pegunungan Papua, kopi nusantara memikat penikmat global dengan aroma dan cita rasa khasnya.

Namun, di balik harum secangkir kopi yang kita nikmati setiap pagi, masih tersimpan realitas petani kecil yang belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan. Padahal, kopi Indonesia menyimpan potensi besar bukan hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi sebagai pintu masuk peningkatan pendapatan petani melalui inovasi, hilirisasi, dukungan kebijakan, serta peran koperasi dan generasi muda.

Sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia, Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 758–794 ribu ton kopi per tahun. Sekitar 78 persen di antaranya adalah robusta yang tumbuh di dataran rendah seperti Lampung dan Sumatera Selatan, sementara arabika berkembang di dataran tinggi sejuk seperti Gayo, Toraja, dan Kintamani.

Keunggulan Indonesia terletak pada keberagaman. Lebih dari 54 kopi nusantara telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis, menegaskan identitas, mutu, dan reputasi tiap daerah. Hampir 99 persen produksi kopi berasal dari perkebunan rakyat, melibatkan lebih dari 1,8 juta petani di lahan sekitar 1,24 juta hektare. Kopi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga bagian dari identitas budaya dan kebanggaan daerah.

Dari sisi pasar, peluang kian terbuka lebar. Ekspor kopi Indonesia pada 2022 mencapai 437,6 ribu ton senilai sekitar US$1,15 miliar (sekitar Rp19,5 triliun), melonjak lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan tujuan utama Amerika Serikat, Mesir, Jepang, Malaysia, dan India. Di dalam negeri, menjamurnya kedai kopi specialty turut mendorong permintaan kopi bermutu tinggi.

Namun, ibarat menyeduh kopi yang nikmat, kesejahteraan petani menuntut proses hulu–hilir yang sabar dan terpadu, seperti peremajaan kebun, peningkatan kualitas pascapanen, pengolahan bernilai tambah, hingga pemasaran yang cerdas. Harapannya, ke depan setiap cangkir kopi Indonesia tak hanya kaya rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang petani yang hidupnya kian sejahtera.

Inovasi peningkatan produktivitas

Di balik besarnya potensi kopi Indonesia, tantangan di sektor hulu masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Produktivitas kebun rakyat relatif rendah, terutama karena banyak tanaman kopi telah berusia tua dan melewati puncak produktivitas, sementara proses peremajaan berjalan lambat.

Data BPS mencatat produksi kopi nasional sempat turun 1,4 persen pada 2022 menjadi 775 ribu ton, dan kembali menyusut sekitar 2,1 persen pada 2023 menjadi sekitar 759 ribu ton. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi perubahan iklim yang mengacaukan pola tanam dan meningkatkan risiko gagal panen, serangan hama dan penyakit, keterbatasan akses petani terhadap teknologi, serta minimnya regenerasi petani.

Baca juga: Menanam harapan bagi perempuan dan petani muda di lereng Kintamani

Baca juga: Mendag: Indonesia berpeluang jadi pusat kopi dunia

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |