Menbud sebut buku Selayang Kemilau upaya pemajuan kebudayaan nasional

2 weeks ago 11

Jakarta (ANTARA) -

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri merupakan bagian penting dari upaya pemajuan kebudayaan nasional melalui literasi.

“Buku ini sangat penting. Melalui riset, pengumpulan artefak, data, hingga visual, literasi budaya menjadi pengikat agar ekspresi budaya tidak hilang dan dapat diwariskan lintas generasi,” kata Fadli dalam peluncuran buku di Jakarta, Kamis.

Buku itu mendokumentasikan kekayaan budaya Sumatra bagian selatan melalui busana adat perempuan, perhiasan emas, dan wastra dari lima provinsi.

Fadli Zon meresmikan peluncuran buku di atas panggung bersama Ketua Umum Putri Bumi Sriwijaya Prinny Harun Sohar. Peluncuran buku dikemas dalam pergelaran seni yang menampilkan ekspresi budaya Bhumi Lima Negeri, termasuk pertunjukan seni yang merepresentasikan kekayaan wastra dan tradisi Sumatra bagian selatan.

Buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri mengangkat sejarah kawasan yang sejak masa lampau dikenal sebagai Swarnadwipa atau Pulau Emas, yang merupakan bagian dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra bagian selatan sejak abad ke-7.

Baca juga: Menbud Fadli Zon dorong budaya jadi kekuatan ekonomi masa depan

Fadli juga menegaskan negara memiliki mandat konstitusional untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Menurutnya, penerbitan buku menjadi bagian penting dalam memastikan kebudayaan terdokumentasi dan tidak hilang.

“Sering kali buku dianggap remeh, padahal melalui buku kebudayaan bisa menjadi abadi,” kata Fadli.

Ia menambahkan kontribusi komunitas, termasuk Putri Bumi Sriwijaya, menjadi elemen penting dalam upaya pemajuan kebudayaan nasional.

Penyanyi sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya yang juga turut hadir di acara tersebut menyebut buku ini sebagai dokumentasi budaya besar yang membangkitkan rasa bangga, khususnya bagi masyarakat Sumatra bagian selatan.

“Ini adalah dokumentasi budaya Sumatra bagian selatan yang pernah dikenal sebagai Bumi Swarnadwipa dan Sriwijaya, meskipun sekarang telah menjadi lima provinsi,” ujar Tantowi.

Ia menilai buku ini disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan membantu pembaca memahami keterkaitan budaya Sumatra bagian selatan dengan kawasan lain di Asia.

“Pengaruh Sriwijaya dan rumpun Melayu terasa kuat dalam buku ini,” katanya.

Buku ini memuat 32 busana pengantin perempuan, 39 busana adat perempuan, serta beragam aksesori dan wastra dari Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Bangka Belitung. Buku ini disusun oleh komunitas perempuan Putri Bumi Sriwijaya bekerja sama dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Baca juga: Realisasi anggaran Kementerian Kebudayaan 2025 capai Rp2,5 triliun

Baca juga: Kementerian Kebudayaan berencana digitalisasi buku-buku sejarah

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |