Menata ekonomi sirkular lewat "Extended Producer Responsibility"

1 month ago 39

Jakarta (ANTARA) - Di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta tuntutan daya saing global, pemerintah menempatkan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) sebagai alat atau instrumen untuk mewujudkan ekonomi sirkular sebagai pilar penting transformasi industri dalam negeri.

EPR atau perluasan tanggung jawab produsen, muncul sebagai katalis utama.

Konsep ini tak sekadar mengalihkan beban pengelolaan limbah ke produsen, tetapi juga mendorong inovasi produk, efisiensi material kemasan, dan keunggulan kompetitif di pasar global yang semakin sadar lingkungan.

Secara sederhana, EPR adalah pendekatan kebijakan yang menetapkan produsen bertanggung jawab atas suatu produk hingga akhir masa pakainya, termasuk pengelolaan limbah yang dihasilkan agar tidak mencemari lingkungan.

Perjalanan menuju implementasi EPR yang efektif masih panjang dan penuh tantangan, sekaligus peluang besar.

Walaupun sudah memiliki payung hukum, namun hingga saat ini belum ada penjelasan yang rinci, maupun mekanisme kewajiban yang efektif.

Meski demikian, sudah ada produsen dalam negeri yang berinisiatif menerapkan konsep ini, dan semestinya pemerintah melirik untuk membantu penerapan EPR agar lebih berkesinambungan.

Ini berkaitan dengan tantangan berupa biaya awal yang tinggi untuk menerapkan konsep ini, mengingat membutuhkan infrastruktur dan teknologi yang memadai.

Selain itu, tak hanya menyasar para produsen, pemerintah juga perlu mengubah pola pikir masyarakat yang awalnya hanya beli, gunakan dan buang menjadi pengelolaan sampah yang berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi terus menerus.

Di balik tantangannya, penerapan EPR yang baik membuka berbagai peluang strategis bagi industri.

EPR mendorong produsen untuk memikirkan akhir masa pakai produk sejak fase desain. Ini menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan, mudah diperbaiki, atau didaur ulang yang pada akhirnya mengurangi sampah.

Meski memerlukan investasi awal yang besar, EPR dapat menghasilkan penghematan melalui pengurangan penggunaan material, pemanfaatan kembali bahan daur ulang, dan pengelolaan limbah yang lebih efisien yang memberikan keuntungan dalam jangka panjang.

Selain itu, banyak negara terutama di Uni Eropa telah memberlakukan regulasi industri hijau yang ketat sebagai persyaratan masuk pasar.

Produk industri yang beradaptasi lebih awal akan memiliki keunggulan kompetitif dalam ekspor.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |