Membasuh luka di fasilitas komplek hunian sementara

2 days ago 3

Tapanuli Selatan- Sumatera Uta (ANTARA) - Matahari pada saat itu belum sepenuhnya terbenam. Inilah momen kebersamaan yang selalu dinanti warga hunian sementara (huntara) Desa Pika untuk bersilaturahim melalui permainan sepakbola 5 lawan 5.

Beralaskan rumput sintetis dengan latar belakang perbukitan yang indah dan sedikit berkabut, remaja daerah asal Garoga, kabupaten Batangtoru, Tapanuli Selatan, terlihat sangat lincah dalam mengolah si kulit bundar yang tidak sepenuhnya terisi angin itu.

Kondisi lapangan yang basah usai siraman air hujan pada siang hari bukan menjadi alasan bagi mereka untuk menunaikan aktifitas harian mereka pada sore hari.

Kondisi ini justru semakin menghangatkan suasana di lapangan tersebut. Tawa dan canda terus terjalin selama permainan berlangsung. Hal itu dikarenakan lapangan yang licin membuat bola semakin sulit untuk dikontrol.

Arkha Siregar lelaki berusia 25 tahun mengaku permainan sepakbola 5 lawan 5 ini hampir terjadi di sore hari, usai mereka tidak lagi beraktifitas.

“Kalau permainan ini hampir setiap sore, inilah hiburan bagi kami,” ujar dia seusai bermain.

Untuk bisa bermain, remaja-remaja itu memiliki aturan tidak tertulis yang harus disepakati. Ketika tim yang lebih dahulu mencetak tiga gol, harus bergantian dengan tim lain.

Ini merupakan bentuk sportivitas yang mereka rajut demi kebersamaan di antara mereka. Selain itu, peraturan ini juga menjadi bentuk kesederhanaan mereka dalam memanfaatkan fasilitas yang ada di huntara tersebut.

Tidak jauh dari lokasi lapangan futsal, terdapat sebuah fasilitas permainan untuk anak-anak. Di sana, tawa lepas dari anak-anak yang bermain ayunan dan perosotan terlihat sangat jujur.

Huntara yang ada di Tapsel ini terlihat cukup nyata, mulai dari fasilitas kamar mandi, dapur umum, taman, lapangan olahraga, playground hingga masjid yang bisa mereka gunakan selama menempati huntara tersebut.

Ruang fasilitas umum ini dimanfaatkan oleh mereka untuk membasuh luka yang didadapat beberapa waktu lalu sulit untuk mereka lupakan.

Terlebih bagi mereka yang kehilangan sanak saudaranya pada saat insiden banjir bandang terjadi di akhir tahun 2025 itu.

Di antara senda gurau yang terlihat selama permainan berlangsung, nyatanya ada kegelisahan yang mereka tutupi.

Bukan soal traumatik atas bencana itu, namun soal bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan kondisi ekonomi yang terbatas saat ini.

“Kapan saya bisa kembali bekerja kembali kalau lahan-lahan kami sudah tidak ada,” kata dia dengan nada yang sangat emosional

Keinginan warga huntara

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |