Jakarta (ANTARA) - Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta Pancasila untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sekadar dihafalkan.
"Lima sila mulai dilupakan hanya dihafalkan. Ini yang saya khawatir," kata Megawati saat berbicara tentang Pancasila, Kebangsaan, Keragaman dan Globalisasi di talkshow Pelayanan Kategorial Persekutuan Kaum Lanjut Usia (Pelkat PKLU) di GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa.
Megawati mengawali paparannya mengenai ideologi Pancasila dan penerapannya saat ini.
Kepada hampir 500 orang lansia yang menjadi jemaat GPIB yang hadir, Megawati juga meminta Pancasila untuk dihayati bukan dihafalkan.
Megawati yang juga menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga banyak mengaitkan paparannya dengan kedua lembaga tersebut.
Megawati meminta agar pesan Pancasila disampaikan kepada anak-anak muda sehingga Pancasila terus diperjuangkan dan dijalankan untuk Indonesia yang abadi.
Pada kesempatan itu, Megawati juga menyoroti agar penyampaian pendapat tetap laksanakan dengan menjaga etika dan praktik perundungan (bully) yang belakangan ini marak.
Megawati memaparkan Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan) yang diajarkan Presiden pertama RI Soekarno.
Megawati menyampaikan contoh dan praktiknya pada masa kini.
Berbicara soal keragaman, Megawati memaparkan kondisi Indonesia setelah era Reformasi pada 1998, ketika Indonesia mengalami beberapa konflik sosial bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang cukup signifikan, seperti di Ambon, Poso, dan Sampit.
Selain memaparkan penyelesaiannya, baik sebagai Wakil Presiden maupun Presiden ke-5 RI, Megawati mengatakan bangsa Indonesia agar mengambil pelajaran dari konflik-konflik tersebut.
"Mudah-mudahan tidak terjadi lagi," tutur Megawati.
Megawati juga menyinggung soal kearifan lokal dalam menyelesaikan konflik, seperti Pela Gandong di Maluku.
Menyangkut isu global, Megawati menceritakan pertemuan dan dialognya dengan Paus Fransiskus, dan mereka membahas soal pemanasan global. Kedua tokoh menekankan urgensi menjaga bumi serta dampaknya bagi manusia.
"Saya diundang ke kediaman pribadi Paus Fransiskus saat itu," ujarnya.
Perempuan kelahiran Yogyakarta itu juga menyinggung kondisi dunia pasca serangan terhadap Iran. Beberapa jemaat berteriak soal harga liquefied petroleum gas (LPG) yang naik.
Megawati banyak memberi contoh soal nasionalisme dikaitkan dengan kondisi global saat ini.
Putri Bung Karno itu merespons nasionalisme di tengah dunia yang hampir tanpa batas dan menegaskan nasionalisme tidak bisa hilang.
Megawati berpesan agar warga Indonesia yang sedang di luar negeri atau pernah tinggal di luar negeri agar tetap menjaga adab ketimuran dan budaya Indonesia.
"Seperti burung kembali ke sarang. Sarangmu Indonesia, jangan lupa," ucap Megawati.
Pada bagian lain, Megawati juga meminta perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) agar dicermati.
Saat tiba di GPIB, Megawati yang hadir bersama politisi PDIP Eriko Sotarduga disambut Ketua Majelis Jemaat GPIB Paulus Jakarta, Pendeta Johny Alexander Lontoh dan Ketua PKLU, Timbul Thomas Lubis.
Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































