Jakarta (ANTARA) - Saat ini layanan kesehatan Indonesia diibaratkan seperti berada di sebuah pesta pernikahan adat yang besar. Pesta dengan tamu ribuan, ruangannya tersebar diberbagai sudut dan semua orang ingin mencicipi hidangan utama yang sama pada waktu yang bersamaan.
Kurang lebih seperti itu gambaran dunia kesehatan di Indonesia saat ini.
Dengan ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, memastikan semua orang mendapatkan layanan kesehatan yang setara itu mirip seperti mencoba membagikan sepiring nasi tumpeng hangat ke orang-orang yang terpisah lautan luas. Susah, tapi bukan berarti tidak bisa.
Karena terbatasnya layanan dan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, akhirnya banyak warga yang ekonominya di atas rata-rata rela terbang ke luar negeri hanya untuk berobat.
ANTARA berkesempatan membahas persoalan tersebut dalam sesi wawancara dengan para petinggi dari raksasa perusahaan asal Belanda dalam acara Philips APAC Innovation Summit di Singapura.
Managing Director Philips APAC Stephanie Sievers membagikan pandangannya yang sangat optimistis tentang Indonesia. Baginya, Indonesia bukan sekadar titik di peta Asia Tenggara, melainkan sebuah panggung besar penuh potensi yang saat ini sedang menjadi fokus utama.
Stephanie sempat memberikan analogi yang menarik ketika membandingkan Indonesia dengan Singapura. Kalau Singapura itu ibaratnya seperti satu rumah mewah yang minimalis semuanya serba dekat, jalannya mulus, dan kalau ada apa-apa tinggal melangkah.
Namun Indonesia adalah sebuah kompleks perumahan raksasa yang belum semua jalannya diaspal, di mana tetangga saling dipisahkan oleh sungai dan bukit.
Di Singapura, cukup fokus pada penyempurnaan layanan. Namun di Indonesia, misinya jauh lebih dalam, yaitu perawatan yang lebih baik untuk lebih banyak orang.
Bukan lagi soal gaya-gayaan menggunakan teknologi paling canggih, melainkan tentang bagaimana teknologi itu bisa menembus batas-batas geografis.
Contoh nyatanya adalah Image-Guided Therapy atau terapi dengan panduan gambar. Bayangkan seorang dokter di pulau terpencil harus melakukan tindakan medis rumit tanpa bantuan visual yang jelas. Itu seperti menyetir mobil di tengah kabut tebal tanpa lampu depan.
Teknologi tersebut hadir seperti lampu kabut super terang yang membantu dokter melihat kondisi dalam tubuh pasien secara real-time, sehingga tindakan medis bisa dilakukan dengan presisi tinggi, bahkan di daerah yang jauh dari ibu kota sekalipun.
Selanjutnya adalah konsep Beyond the Hospital Walls atau Melampaui Tembok Rumah Sakit, di sini pusat komando memegang penting perannya.
Kita beranggap bahwa command center seperti menara pengawas di bandara. Di dalam menara tersebut, duduklah para dokter spesialis senior yang sangat ahli dan berpengalaman.
Kemudian di daerah nun jauh disana, sebuah puskesmas kecil di pelosok Kalimantan atau Papua, ada seorang perawat atau dokter muda yang sedang kebingungan menghadapi kasus USG atau radiologi yang rumit.
Melalui teknologi konektivitas dan kecerdasan buatan, dokter senior di pusat komando tadi dapat melihat layar USG sang pasien secara langsung, kemudian memberikan panduan langkah demi langkah, dan membantu menegakkan diagnosis saat itu juga.
Sehingga dokter muda di daerah tersebut tidak lagi merasa "tersesat" dan pasien juga tidak perlu mengeluarkan ongkos jutaan rupiah hanya untuk terbang ke Jakarta atau kota besar lainnya demi berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Ini bukan sekadar tentang kecanggihan teknologi, tapi tentang menghadirkan rasa tenang dan aman ke tempat-tempat yang sebelumnya sulit dijangkau.
Jumlah dokter terbatas
ANTARA juga melemparkan pertanyaan mengenai tantangan layanan kesehatan di Indonesia, apakah itu masalah infrastruktur, regulasi, atau tenaga medis?
Wanita yang menghadiri acara dalam keadaan hamil tersebut menjawab kondisi geografis Indonesia yang menantang, harusnya menjadi pemicu kreativitas. Orang Indonesia itu terkenal sangat adaptif; ketika ada masalah, insting "kerja cerdas" mereka langsung menyala.
Namun tidak dapat dipungkiri satu masalah yang memang dialami oleh hampir seluruh dunia saat ini yakni kekurangan tenaga medis atau talenta terbaik.
Di Indonesia, rumah sakit swasta tumbuh seperti jamur di musim hujan. Banyak pengusaha yang sanggup membangun 10 gedung rumah sakit baru dalam waktu dua tahun. Namun, mencetak dokter, perawat, dan teknisi ahli tidak bisa secepat membangun dinding bata.
Hingga akhir 2025 atau awal 2026, jumlah rumah sakit di Indonesia melampaui 3.200 unit, dengan sekitar 65 persen di antaranya adalah RS swasta.
Managing Director, Philips APAC, Stephanie Sievers saat ditemui dalam Philips APAC Innovation Summit di Singapura, Rabu (29/4/2026). ANTARA/Ilham KausarDalam permasalahan ini, Philips masuk untuk berusaha menyelesaikan permasalahan tersebut. Tidak hanya menjual alat medis yang canggih tetapi juga memberikan pelatihan intensif kepada para tenaga kesehatan agar mereka tahu cara menggunakan alat secara maksimal.
Selain itu, teknologi AI dan otomatisasi yang ditawarkan didesain untuk memotong alur kerja yang berbelit-belit.
Jika sebelumnya seorang perawat harus menghabiskan waktu untuk mencatat data pasien secara manual, sistem AI bisa melakukannya dalam hitungan menit. Waktu luang yang tersisa bisa digunakan untuk merawat pasien dengan sentuhan yang lebih manusiawi.
Investasi teknologi
Selanjutnya pertanyaan klasik yang pasti ada dalam bisnis apapun, berapa harganya, bagaimana modal kembali dan bagaimana risiko jika gagal.
Jika kita membangun dari awal memang membutuhkan modal yang tidak sedikit; teknologi AI, sistem command center, butuh "pengorbanan" yang tidak murah. Namun, apabila dilihat jangka panjang, investasi yang dibangun akan terasa manfaatnya di kemudian hari.
Wanita yang bergabung dengan Philips sejak 2014 itu menjelaskan bahwa setiap inovasi yang dibawa ke pasar global harus memiliki nilai yang sebanding dengan harganya. Ia tidak menawarkan barang mewah yang fungsinya hanya untuk pajangan.
Mereka membagi portofolio menjadi dua kelas: high-end untuk rumah sakit besar dengan kebutuhan kompleks, dan low-end yang lebih terjangkau namun tetap memiliki standar kualitas yang tinggi untuk fasilitas kesehatan yang lebih kecil.
Dengan bantuan AI dan pemantauan jarak jauh, rumah sakit bisa menekan biaya operasional yang tidak perlu. Misalnya, mencegah pasien rawat inap terlalu lama karena kondisinya bisa dipantau dari rumah, atau mengurangi kesalahan diagnosis yang bisa berakibat pada pengobatan ulang yang mahal.
Pada akhirnya, teknologi ini justru menjadi mesin penghemat anggaran bagi manajemen rumah sakit.
Pihak rumah sakit swasta pun sadar bahwa jika mereka tidak berinvestasi pada teknologi sekarang, mereka akan tertinggal oleh zaman dan ditinggalkan oleh pasien yang semakin cerdas.
Masa depan lebih sehat
Akhirnya apa yang dilakukan oleh Philips di Indonesia adalah tentang kolaborasi. Mereka tidak bisa berjalan sendirian, mereka menggandeng Kementerian Kesehatan yang memang sedang gencar-gencarnya melakukan transformasi digital, serta bermitra dengan sektor swasta untuk meningkatkan kapasitas para tenaga medis.
Melihat antusiasme dan kecepatan adopsi teknologi di Indonesia saat ini, tidak heran jika para petinggi Philips merasa sangat bersemangat.
Tantangan geografis yang dulu dianggap sebagai beban, kini justru menjadi ruang bermain yang sangat menarik untuk melahirkan inovasi-inovasi baru.
Indonesia sedang bergerak maju, merajut pulau-pulau yang terpisah dengan benang-benang digital kesehatan. Itu untuk memastikan bahwa siapa pun Anda dan dimana pun Anda berada, hak untuk mendapatkan perawatan medis yang layak bukan lagi sekadar impian di siang bolong.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































