Jakarta (ANTARA) - Lewis Emma, jenama fesyen anak lokal, telah mengidentifikasi waktu paling utama (prime time) untuk menjalankan Shopee Live Shopping mereka yaitu di pagi hari.
Owner Lewis Emma, Finna Fidela, menduga periode puncak siaran mereka itu didukung oleh segmentasi audiens utama jenama tersebut yaitu para ibu, di mana waktu tersebut bertepatan dengan momen senggang para ibu setelah mengurus kebutuhan rumah tangga, menjadikan mereka target pembeli yang aktif.
"Pagi. Kalau kami mungkin emak-emak ya habis antar anak sekolah gitu. Itu jam-jam... paling bagusnya sih kami pagi," kata Finna saat ditemui di Kantor Pusat Lewis Emma di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, Jumat.
Periode Shopee Live Shopping yang hanya berlangsung sekitar tiga jam, dimulai dari jam 07.00 hingga 10.00 WIB, dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap metrik penjualan jenama ini.
"Kontribusi di pagi tuh justru di angka sampai dengan 40, 40 persenan lah," ujar Finna, merujuk pada Nilai Kotor Penjualan Barang (GMV) dari seluruh sesi live shopping selama satu hari.
Angka itu mendekati setengah dari total penjualan Lewis Emma dalam satu hari, meskipun Shopee biasanya menggalakkan program voucher atau kampanye promosi penjualan ekstra di jam-jam lain.
Lewis Emma menjalankan total siaran hingga 12 jam per hari dengan sistem pemandu siaran bergilir (shift host).
Baca juga: Pengusaha UMKM kembangkan bisnis dengan manfaatkan pemasaran digital
Kehadiran live shopping membantu pelanggan Lewis Emma, khususnya para ibu, untuk bertanya detail produk secara langsung dan mengurangi keraguan pembelian.
"Pertanyaan soal detail bahan (katun) dan konsultasi ukuran (size) menjadi pertanyaan paling umum di kolom chat," kata Finna.
Lewis Emma bergabung hampir 10 tahun bersama Shopee, dengan nama toko lewisandemma.
Nama jenama produk diambil dari nama kedua anaknya, John Lewis dan Emma Jane.
Dulu waktu awal didirikan pada 2016, Lewis Emma sangat fokus pada cara penjualan offline atau luring dengan berjualan di bazar, walaupun mereka juga hadir di Shopee sudah selama hampir 10 tahun.
Finna dan suaminya menjadi tim inti awal di mana mereka harus mengelola hingga tiga sampai lima bazar per pekan. Lokasi bazar pertama mereka adalah di Cilandak Town Square (Citos), sebelum berkembang ke Jakarta Selatan lainnya seperti Kota Kasablanka (Kokas).
Tugas mereka mencakup persiapan stok, melakukan loading in dan loading out barang (bongkar muat), hingga menyetrika uap (steam) baju di lokasi bazar pada pukul 05.00 pagi agar siap dijual jam 10.00 WIB.
Baca juga: ShopeeFood dan Serly One Bite Big Bite beri diskon rame-rame
Finna menyadari perubahan terjadi bersamaan dengan munculnya pandemi COVID-19.
"Pandemi di tahun 2020 itu menjadi titik balik, karena banyak penjualan luring terhenti dan bisnis online tumbuh dengan pesat," kata dia.
Keputusan menerapkan pemasaran daring melalui lokapasar seperti Shopee meningkatkan kinerja bisnis secara signifikan.
Finna mengklaim transisi tersebut menghasilkan lonjakan omzet hingga bisa membuka store fisik di mal pada 2022. "Kalau dibanding offline pas online sih paling besar ya. Maksudnya kalau dibandingkan dengan per toko itu tetap online lebih besar," jelasnya.
Finna merinci perbandingannya, "Dari misalnya 5 tempat offline sama 1 online itu lebih bagus sekitar tiga kali lipat ya? Dari misalnya 5 tempat offline sama 1 online."
Kini, Lewis Emma beroperasi dengan total staf mencapai sekitar 80 orang yang tersebar di basis operasional Jakarta dan Surabaya.
Lewis Emma juga memiliki pelanggan internasional di mana Malaysia menjadi pasar luar negeri terbesar mereka.
Baca juga: Perjalanan jenama Foldyester memanfaatkan peluang di Shopee
Baca juga: Pelatihan digital dongkrak omzet UMKM, penjualan kian melesat
Baca juga: Kementerian UMKM: Shopee serius dukung UMKM dan produk lokal
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































