Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung berencana mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di sejumlah bendungan di daerahnya untuk meningkatkan kemandirian energi serta bauran energi terbarukan.
"Pertama yang menjadi rencana pemerintah atau target pemerintah daerah adalah mendorong kemandirian energi sesuai dengan Astacita. Dalam rangka mewujudkan kemandirian energi, daerah diminta untuk memenuhi tu dengan pengembangan potensi energi terbarukan," ujar Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung Mulyadi Irsan di Bandarlampung, Jumat.
Ia mengatakan di Provinsi Lampung kebutuhan akan tenaga listrik saat ini mencapai 1.300 megawatt, di mana 1.000 megawatt berasal dari pasokan pembangkit di dalam Lampung, dan 300 megawatt berasal dari pasokan pembangkit di Sumatera Selatan.
"Ke depan dengan adanya pertumbuhan kebutuhan energi ini, maka kita harus mencari sumber-sumber energi baru yang ramah lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan tenaga surya," katanya.
Baca juga: Danantara dan PLN jajaki peluang investasi energi baru terbarukan
Dia menjelaskan Pemerintah Provinsi Lampung dalam mewujudkan pemanfaatan sumber energi baru tersebut sudah melakukan pemetaan terkait dengan kebutuhan energi terbarukan, di antaranya melalui pemanfaatan tenaga surya dengan PLTS terapung.
"Jadi nanti akan ada pengembangan panel surya atau PLTS terapung yang memanfaatkan keberadaan bendungan yang ada di sini seperti Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga. Nanti 20 persen dari luasan bendungan itu digunakan untuk panel surya," ucap dia.
Menurut dia, saat ini sedang dilakukan kerja asama antara para investor, dengan Kementerian Pekerjaan Umum, PLN terkait pemanfaatan energi tersebut.
"Kita ketahui Lampung sudah memenuhi target nasional dalam memenuhi kebutuhan energi terbarukan. Pusat minta kebutuhan energi terbarukan itu 23 persen, dan Lampung sudah 30 persen baurannya," ujar dia.
Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































