KLH: Pendangkalan sungai penyebab banyaknya debu di Aceh pascabencana

2 weeks ago 6

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyatakan bahwa sedimentasi akibat pendangkalan sungai menjadi salah satu penyebab banyaknya debu di Provinsi Aceh pasca-bencana banjir.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, menyampaikan tumpukan sedimentasi material mengakibatkan debu-debu beterbangan pada musim kemarau, sehingga menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (Ispa) yang banyak dialami oleh masyarakat di Aceh.

Baca juga: Prabowo setujui pembentukan Satgas Kuala untuk keruk sungai dan olah air

"Menjadi perhatian kami juga berkaitan dengan bencana di sana, bisa dikatakan itu lebih kepada debu. Jadi, memang setelah sedimentasi itu kan terjadi debu-debu halus itu ya, sehingga saat musim kemarau ketika kering dia akan tersapu. Kami belum secara khusus menangani ini, tetapi biasanya kalau kering itu kan seharusnya dilakukan penyiraman, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh tim yang ada di sana," kata Rasio.

Ia menjelaskan dampak dari bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagian besar terjadi karena pendangkalan sungai. Saat ini, partikel-partikel halus yang menyebar akibat penumpukan tanah atau lumpur menjadi salah satu permasalahan utama yang menjadi perhatian.

"Karena adanya erosi, terbawa oleh air, kan hujan ini menghancurkan ya, sehingga terjadi erosi. Kemudian material-materialnya terbawa oleh air, yang juga menyebabkan aliran sungainya itu dangkal. Kemudian partikel-partikel halus ini kan berada di sekitar pemukiman tergenang itu, baik di jalan, pengungsian, dan sebagainya," ujar dia.

Selain permasalahan debu, Rasio juga menyoroti adanya permasalahan air bersih dan pembakaran sampah di sekitar pengungsian. Oleh karena itu, KLH terus melakukan koordinasi untuk segera menangani hal tersebut.

"Selain debu, kami juga melihat ada dampak terkait dengan air bersih, kemudian juga ada masalah sampah, termasuk sampah yang terbawa oleh banjir, maupun sampah selama aktivitas pengungsian," ucap Ridho.

Untuk menangani permasalahan debu pasca-bencana banjir, Polres Aceh Selatan menggunakan mobil penyemprot air atau water cannon membersihkan jalan guna mencegah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa).

Wakapolres Aceh Selatan Kompol Edwin Aldro mengatakan penyiram badan jalan dari debu sisa banjir merupakan respons langsung terhadap rekomendasi dari petugas kesehatan Polri.

Baca juga: Mendagri gunakan perahu tinjau pengungsi di Leubok Pusaka

Baca juga: Masih ada desa terisolir, Pemda Aceh Tengah perpanjang Tanggap Darurat

"Penyiraman dan pembersihan debu ini dilakukan untuk menghilangkan debu di jalan agar masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih nyaman dan sehat. Kehadiran tim di lapangan bertujuan untuk memastikan kualitas udara kembali layak bagi aktivitas warga," katanya.

Banjir melanda di beberapa wilayah di Kabupaten Aceh Selatan menyisakan material lumpur tebal. Saat mengering, lumpur ini berubah menjadi debu yang beterbangan ketika dilintasi kendaraan, sehingga berisiko memicu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (Ispa).

Ia mengatakan penyemprotan dan pembersihan difokuskan di jalan protokol. Tujuan utama penyemprotan untuk menghilangkan tumpukan lumpur kering yang memicu polusi debu di sepanjang jalan utama Kabupaten Aceh Selatan.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |