Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menghentikan sumber emisi delapan perusahaan di Jabodetabek yang terbukti mengeluarkan asap pekat dan berpotensi menimbulkan pencemaran udara.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH Rasio Ridho Sani dalam konferensi pers patroli emisi di Jakarta, Kamis, menyampaikan hasil temuan tersebut berdasarkan pemantauan pada 16-23 Januari 2026.
"Yang kita hentikan adalah sumber emisinya, kalau dampak, ya tentu berdampak pada perusahaan, tetapi kami fokus kepada penghentian sumber emisinya. Kami memberi kesempatan mereka untuk memperbaiki, tetapi kalau sudah ada kejadian berulang, tentu kami akan lakukan langkah-langkah penegakan hukum, nanti akan dikenakan sanksi di sana," katanya.
Rasio mengemukakan, kedelapan perusahaan tersebut mengeluarkan partikulat debu 2,5 PM yang jika terhirup akan berbahaya bagi paru-paru dan pernapasan.
"Memang persoalan yang terjadi itu kalau kita lihat langit mendung dan abu-abu itu partikulat debu 2,5 PM. Jadi kita saat ini fokus kepada yang hitam-hitam itu karena partikulat. Kita fokus di sana karena bisa berdampak pada infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)," ujar dia.
Baca juga: Menteri LH: Gugat korporasi, negara ingin pemulihan penuh lingkungan
Selain partikulat 2,5 PM, kedelapan perusahaan tersebut juga mengeluarkan emisi berbahaya dari hasil pembakaran batu-bara yang selama ini digunakan untuk menjalankan proses produksi.
"Partikulat itu berasal dari pembakaran atau boiler (ketel uap), bisa menggunakan batubara dan sebagainya, itu yang banyak sekali terjadi ketika kita lihat di sini. Maka, sumber emisi dari sekitar Jabodetabek dan tempat lain itu biasanya peleburan logam. Itu partikulatnya sangat tinggi," tuturnya.
Kedelapan perusahaan tersebut yakni PT MF di Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, dengan sumber emisi dari furnace (tungku pembakaran); PT BK di Marunda, Jakarta Utara, dengan sumber emisi dari boiler; PT MG di JIEP, Cakung, Jakarta Timur dengan sumber emisi dari boiler; dan PT KP di Kawasan Bekasi Fajar Estate, Cikarang Barat, Bekasi, dengan sumber emisi dari boiler.
Kemudian, PT RJ yang berlokasi di Kawasan Jatake, Cikupa, Kabupaten Tangerang dengan sumber emisi dari boiler; PT PM di Kawasan Jababeka II, Kabupaten Bekasi dengan sumber emisi dari spray dryer; PT DK di Cikarang Barat, Bekasi, dengan sumber emisi dari boiler; serta PT TK di Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang dengan sumber emisi dari boiler.
Baca juga: Menteri LH: RI-Inggris komitmen perkuat pembiayaan alam berkelanjutan
Baca juga: KLH: Pendangkalan sungai penyebab banyaknya debu di Aceh pascabencana
Baca juga: Pemerintah tetapkan Peta Mangrove Nasional 2025 seluas 3,45 juta ha
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































