Jakarta (ANTARA) - Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan bahwa layanan pendidikan merupakan hak dasar anak yang wajib diberikan oleh negara, di tengah berbagai persoalan berkenaan dengan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk infrastrukturnya.
Ia menyoroti, masih ada anak-anak yang harus bersekolah di bawah pohon, kesulitan membeli buku dan pensil, bahkan ada yang setiap hari harus melalui perjalanan ekstrem untuk sampai ke sekolah.
"Titik paling dasar yang menentukan apakah proses belajar dapat berlangsung dengan baik adalah dengan memastikan Negara memiliki sistem pelayanan pendidikan yang maksimal bagi anak," kata Puan di Jakarta, Selasa.
Baca juga: Puan: Masih banyak bencana alam, rakyat harus segera dapat solusi
Menurut dia, permasalahan fasilitas hingga akses menuju layanan pendidikan bukan hanya terjadi satu atau dua kasus saja, sebab masih banyak ditemukan pelajar, terutama di pedalaman, yang harus menempuh kondisi geografis sulit dan letak rumah dengan sekolahnya sangat jauh.
Dia pun mengatakan bahwa permasalahan layanan pendidikan di antaranya terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tando di Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, di mana siswanya harus belajar di bawah pohon.
Kemudian ada juga anak-anak di Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang harus berjuang melawan arus sungai yang cukup deras hanya untuk bersekolah.
Menurut dia, kasus-kasus itu harus menjadi kesadaran dan pengingat bersama, bahwa infrastruktur yang merata sebagai bagian dari layanan pendidikan merupakan hak dasar anak yang wajib dipenuhi oleh negara.
“Baik itu infrastruktur utama sekolah, maupun infrastruktur penunjang pendidikan seperti akses menuju sekolah, maupun sarana prasarana pendidikan lainnya,” kata dia.
Baca juga: Pemkab Jayapura komitmen perkuat infrastruktur pendidikan
Dalam banyak pembahasan tentang pendidikan, menurut dia, perhatian justru sering tertuju pada kurikulum, kualitas guru, atau hasil pembelajaran. Namun di sejumlah daerah, persoalan paling besar justru hal yang sangat dasar yakni tantangan terhadap keamanan dan kenyamanan anak saat mengenyam pendidikan.
“Maka penting agar kebutuhan dasar masyarakat dengan prioritas pembangunan dapat berjalan dengan cepat dan secara merata,” kata dia.
Dia pun melihat bahwa infrastruktur kecil seperti jembatan desa sering kali tidak menonjol dalam ukuran pembangunan nasional, tetapi justru di situlah kualitas kehadiran negara paling langsung dirasakan masyarakat.
“Kami berharap pembangunan wilayah ke depan perlu semakin peka membaca titik-titik paling sederhana yang memiliki dampak sosial besar,” katanya.
Baca juga: Menag: Rehabilitasi sarana pendidikan di Sumatera terus berlangsung
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































