Ketika pendakian berubah menjadi perjalanan tanpa jalan pulang

1 month ago 22

Jakarta (ANTARA) - Film "Dusun Mayit" mengisahkan pendakian yang sejak awal diniatkan sebagai pelarian dari rutinitas, namun perlahan berubah menjadi perjalanan tanpa jalan pulang.

Cerita berpusat pada empat sahabat, yakni Raka, Aryo, Nita, dan Yuni yang memutuskan mendaki Gunung Welirang sebagai bentuk liburan sederhana, sekaligus ruang untuk bernapas dari persoalan pribadi masing-masing. Alih-alih menemukan ketenangan, keputusan tersebut justru membawa mereka pada pengalaman yang jauh dari kata menenangkan.

Raka (Randy Martin) tampil sebagai penggagas perjalanan. Dengan sikap optimistis dan penuh keyakinan bahwa alam selalu menawarkan kedamaian, ia berhasil meyakinkan teman-temannya untuk ikut mendaki. Keyakinan itu menjadi pendorong utama perjalanan, tetapi juga menanam bibit konflik, ketika Raka kerap mengabaikan tanda-tanda bahaya yang muncul di sepanjang jalur pendakian.

Pendakian ke Gunung Welirang menjadi pengalaman pertama bagi Nita dan Yuni, yang diperankan oleh Ersya Aurelia dan Amanda Manopo. Keduanya memulai perjalanan dengan antusiasme tinggi, menikmati setiap langkah awal dan berharap dapat menyaksikan langsung keindahan alam yang selama ini hanya mereka kenal dari cerita dan gambar. Pada tahap ini, suasana masih terasa ringan. Persahabatan terjalin hangat, rasa lelah tertutupi rasa penasaran, dan optimisme seolah menjadi pelindung dari segala kemungkinan buruk.

Suasana berubah ketika mereka tersesat di sebuah padang rumput luas yang dikelilingi ilalang. Di tengah kebingungan, mereka menemukan sebuah pasar yang tampak ramai dan hidup. Tanpa curiga, keempatnya memutuskan beristirahat di sana. Keputusan sederhana ini menjadi titik balik cerita, karena tanpa mereka sadari, langkah tersebut telah membawa mereka melewati batas wilayah yang tidak tercantum di peta mana pun.

Gunung yang mereka daki seolah membuka pintu ke dimensi lain, sebuah dusun misterius yang dipenuhi kejanggalan. Sosok-sosok asing, teror gaib, dan suasana yang tidak wajar mulai mengepung mereka. Dusun itu bukan sekadar sunyi, melainkan menyimpan ancaman dari makhluk yang tidak sepenuhnya manusia.

Dari sinilah pertanyaan utama film terus bergema: apakah mereka masih memiliki jalan untuk kembali ke dunia nyata?

Keempat pemeran utama membangun dinamika pertemanan yang meyakinkan. Yuni tampil sebagai sosok rasional di awal cerita, namun ketika teror semakin mendekat dan logika tak lagi memadai, ia justru menjadi karakter paling rapuh secara emosional. Nita digambarkan penuh percaya diri, bahkan cenderung arogan. Akan tetapi, seiring situasi berubah menjadi mimpi buruk, lapisan keangkuhan itu perlahan runtuh, digantikan rasa takut dan ketidakberdayaan.

Aryo (Fahad Haydra) hadir sebagai karakter yang paling realistis, menjadi penyeimbang di tengah kepanikan dan saksi bagaimana rasa takut menggerogoti persahabatan. Sementara itu, Raka tetap berusaha optimistis, tetapi sikap cerobohnya dalam membaca situasi justru membawa kelompok semakin jauh dari keselamatan, menegaskan bahwa niat baik tidak selalu berujung pada hasil yang baik.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |