Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif mengapresiasi pengembang Libere, proyek infrastruktur Web3 di bidang penerbitan dan perpustakaan digital yang dinobatkan sebagai juara dalam ajang Infinity Hackathon 2025.
Erdy Suryadarma dan M. Ridho Izzulhaq dari Bandung mengembangkan Libere dengan fokus untuk membangun infrastruktur perpustakaan dan penerbitan digital berbasis teknologi Web3.
Saat menyerahkan penghargaan kepada pengembang Libere dalam rangkaian Ekraf Tech Summit 2025 di Jakarta pada 16 Desember 2025, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa capaian Libere menunjukkan kemampuan talenta kreatif Indonesia.
"Libere menunjukkan bahwa talenta kreatif dan teknologi Indonesia mampu bersaing di tingkat global sekaligus menghadirkan solusi yang relevan bagi kebutuhan publik," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian di Jakarta pada Selasa.
"Inovasi seperti ini penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional dan mendorong modernisasi layanan publik melalui pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab," ia menambahkan.
Libere merupakan infrastruktur Web3 yang dirancang untuk mendukung penerbit, perpustakaan, dan institusi dalam mendistribusikan buku digital secara aman dengan mekanisme royalti yang transparan dan terprogram.
Dengan menyelaraskan kepentingan kreator, penerbit, perpustakaan, dan mitra institusional, Libere menawarkan solusi untuk mengatasi pembajakan, sistem royalti yang tidak transparan, dan keterbatasan akses digital sekaligus membuka peluang model distribusi baru berbasis kemitraan dan program tanggung jawab sosial perusahaan.
Kementerian Ekonomi Kreatif menilai kolaborasi Libere dengan Institut Teknologi Bandung dan Pemerintah Kota Bandung sebagai contoh sinergi positif antara inovator, institusi pendidikan, dan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan akses publik terhadap pengetahuan.
Dalam ajang Infinity Hackathon yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Otoritas Jasa Keuangan, Libere dinilai unggul berkat pendekatan teknis yang solid serta pemanfaatan teknologi blockchain untuk mendukung layanan publik di bidang kebudayaan dan pengetahuan.
Proyek ini mengembangkan sistem perpustakaan publik berbasis on-chain yang memanfaatkan blockchain dan NFT untuk mendukung pengelolaan kepemilikan digital, transparansi distribusi royalti kreator, serta tata kelola institusional yang akuntabel.
Sementara itu, Erdy dan Ridho selaku pengembang Libere tercatat pula sebagai peserta Protocol Camp 2025, program pengembangan Web3 berskala internasional yang hanya menerima 20 pembangun dari berbagai negara di Asia.
Di samping itu, keduanya dijadwalkan mempresentasikan proyek mereka dalam sesi final Protocol Camp di Tokyo, Jepang, pada Januari 2026.
Baca juga: Hackathon edisi kedua angkat inovasi berbasis teknologi 5G dan AI
Baca juga: Kemenekraf jajaki peluang kolaborasi dalam pengembangan teknologi Web3
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































