Kemenkes: Transfer teknologi tinggi dukung progres 2 program quick win

1 week ago 16

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan, transfer teknologi tinggi menguatkan kemandirian alat kesehatan nasional, sehingga mendukung progres dua program hasil terbaik cepat (PHTC) atau quick win, yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan peningkatan kapabilitas 66 RS di daerah.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa inisiatif transfer teknologi tinggi antara Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia relevan dengan agenda transformasi kesehatan nasional serta PHTC.

Terdapat dua produk yang dilibatkan dalam transfer teknologi, yakni ultrasound dan monitor pasien. Rizka mengatakan, pada 2026, pemerintah menargetkan cakupan sekitar 130 juta penduduk Indonesia dalam CKG. Pada 2025, sebanyak 70 juta orang berpartisipasi dalam program itu.

"Tentunya kesuksesan cek kesehatan gratis harus didukung oleh fasilitas diagnosis yang adekuat di tiap fasilitas kesehatan primer," katanya.

Kemudian, agenda quick win lainnya yakni peningkatan kapasitas dan kompetensi 66 RS di daerah dari kelas D ke C, guna memberikan layanan esensial dan penanganan penyakit-penyakit prioritas, yakni kanker, sakit jantung, stroke, sakit ginjal atau uronefrologi (KJSU).

Untuk memastikan tercapainya tujuan itu, katanya, perlu adanya transformasi yang signifikan dalam hal infrastruktur dan fasilitas, utamanya melalui produksi alat kesehatan berteknologi tinggi secara lokal. Dia menyebutkan, transfer teknologi tinggi serta produksi secara lokal memungkinkan tersedianya alat diagnosis yang tepat dengan harga yang terjangkau.

"Seiring percepatan menuju target-target nasional Indonesia Emas 2045, Kementerian Kesehatan melihat perkembangan industri alat kesehatan bukan hanya sebagai ekspansi bisnis, tapi juga kekuatan penting dalam transisi Indonesia menuju ekonomi berbasis teknologi kesehatan tingkat tinggi," katanya.

Baca juga: Kemenkes: Transfer teknologi tinggi perkuat kemandirian alkes RI

Pihaknya berharap kemitraan antara ketiganya dapat menginspirasi pihak-pihak lainnya untuk turut memproduksi alat kesehatan di Indonesia, sehingga berkontribusi dalam menciptakan ekosistem kesehatan nasional yang andal.

Rizka juga berharap bahwa Indonesia tak hanya menjadi penyuplai alat kesehatan secara nasional saja, melainkan juga menjadi hub di Asia Pasifik juga.

Dalam kesempatan yang sama, President Director Philips APAC Stephanie Sievers mengatakan, pihaknya menggabungkan inovasi global Philips dengan pendekatan lokal guna memberikan solusi serta dampak positif dalam penanganan penyakit.

"Manufaktur lokal memungkinkan kita untuk mengurangi waktu pengiriman, memperkuat ketahanan suplai, serta membangun alat medis secara lokal. Paling penting, memenuhi kebutuhan pasien di seluruh penjuru negeri," kata Stephanie.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, pihaknya berharap inisiatif dari pihaknya mampu mendukung agenda transformasi kesehatan, serta dapat menyerap sumber daya manusia ke lapangan kerja.

Baca juga: Kemenkes lengkapi 80 persen alkes di daerah terdampak bencana Sumatera

Baca juga: TCK Kemenkes kuatkan layanan pascabencana di Kuala Cangkoi, Aceh Utara

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |