Jakarta (ANTARA) - Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Niken Wastu Palupi menegaskan peran kader posyandu sebagai ujung tombak dalam upaya pencegahan masalah kesehatan keluarga melalui penguatan layanan primer, khususnya dalam Gerakan Keluarga SIGAP.
“Mereka adalah ujung tombak dan garda terdepan kita. Namun perlu kita sadari bersama, saat ini baru sekitar 10,6 persen kader yang lulus penilaian keterampilan dasar di level madya dan utama,” kata Niken dalam Diseminasi Nasional Program Keluarga SIGAP di Jakarta, Kamis.
Keluarga SIGAP merupakan kampanye perubahan perilaku multi-kanal yang menjawab beberapa hambatan utama dalam mewujudkan tumbuh kembang anak. Gerakan ini merupakan langkah kolaboratif antara pemerintah dan swasta.
Ada tiga garis besar yang dilakukan gerakan tersebut yakni memastikan imunisasi yang lebih lengkap sesuai jadwal, cuci tangan pakai sabun, dan pemberian makanan bergizi dan pilihan makanan yang sehat.
Niken menjelaskan Kemenkes memandang kesehatan sebagai sebuah siklus hidup yang harus dijaga secara berkelanjutan, sejak dalam kandungan hingga memasuki usia lanjut.
Baca juga: Kemenkes: Kemampuan kader ditingkatkan guna jaga kesehatan publik
Oleh karena itu fokus pembangunan kesehatan kini tidak lagi bertumpu pada layanan kuratif di rumah sakit, melainkan pada pencegahan melalui transformasi layanan primer.
“Melalui enam pilar transformasi kesehatan, pilar pertama yaitu transformasi layanan primer menjadi kunci. Pencegahan dimulai dari keluarga dan di sinilah kader posyandu memegang peranan sangat penting,” ujarnya.
Menurut dia, Kemenkes mendorong implementasi Gerakan Keluarga SIGAP agar masyarakat tidak hanya memiliki pengetahuan kesehatan, tetapi juga mampu mengubah perilaku sehari-hari. Namun tantangan di lapangan masih cukup besar, antara lain cakupan imunisasi dasar yang belum merata.
“Permasalahan imunisasi sering kali bukan pada ketersediaan vaksin, tetapi pada faktor sosial, seperti izin keluarga atau kepercayaan budaya. Ini membutuhkan pendekatan persuasif yang konsisten di tingkat komunitas,” katanya.
Selain imunisasi, Niken menyoroti kebiasaan cuci tangan pakai sabun serta pemenuhan gizi, terutama pada kelompok anak di bawah dua tahun. Menurut dia, kekurangan asupan protein hewani masih menjadi masalah serius yang berkontribusi terhadap stunting.
Baca juga: Pakar: Keluarga SIGAP berdampak positif ubah perilaku masyarakat
“Banyak orang tua merasa anaknya sudah makan cukup, padahal kualitas gizinya, khususnya protein hewani, masih perlu ditingkatkan. Edukasi berkelanjutan kepada keluarga menjadi kunci,” ujar Niken.
Jika persoalan tersebut tidak ditangani sejak dini, lanjutnya, maka akan menjadi beban besar bagi sistem kesehatan di masa depan. Karena itu intervensi harus dilakukan sejak sekarang secara taktis dan konsisten, salah satunya melalui penguatan peran kader posyandu.
Untuk itu Kemenkes mendorong peningkatan kapasitas kader dengan membekali mereka 25 keterampilan dasar, termasuk kemampuan melakukan kunjungan rumah, memberikan edukasi yang meyakinkan, serta menjadi pemecah masalah di tingkat RT dan RW.
“Melalui kunjungan rumah, kader diharapkan dapat menjangkau keluarga yang sulit mengakses fasilitas kesehatan, mengenali tanda bahaya pada ibu hamil, bayi, dan balita, serta mendorong rujukan ke puskesmas bila diperlukan,” kata Niken.
Baca juga: Menkes ajak BGN bantu penuhi gizi ibu hamil guna tekan angka stunting
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































