Kemenkes: "functional longetivity" bukti pergeseran persepsi penuaan

3 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan konsep "functional longetivity" menunjukkan pergeseran dalam cara publik memandang penuaan, di mana ukuran keberhasilan hidup panjang kini bergeser dari sekadar penampilan muda menjadi kemampuan tubuh untuk berfungsi.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Imran Pambudi di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa perubahan perspektif ini memengaruhi cara individu berlatih, cara perusahaan merancang program kesejahteraan, dan serta penyusunan kebijakan dan ruang publik guna mendukung kehidupan yang mandiri di usia lanjut.

"Status sosial baru diukur dari apa yang tubuh bisa lakukan, sehingga produk dan layanan yang hanya menjual penampilan muda menghadapi pasar yang semakin menyempit," katanya.

Selain itu, katanya, gerosains atau studi tentang penuaan dan penyakit kronis, serta konsep-konsep ilmiah yang dulu eksklusif di laboratorium, kini semakin umum. Istilah-istilah seperti VO2 max, tingkat inflamasi, kesehatan metabolik, dan usia biologis menjadi bagian dari bahasa sehari-hari ketika orang menilai kondisi kesehatannya.

Selain itu, katanya, konsep "capacity aging" mendorong perancangan ulang program kesehatan. Perusahaan dan penyedia layanan mulai memikirkan kebutuhan tubuh di usia 80 tahun, bukan sekadar preferensi di usia 28 tahun.

"Akibatnya, tidur berkualitas, massa otot, keseimbangan, dan pola makan diperlakukan sebagai infrastruktur kesehatan jangka panjang," katanya.

Baca juga: Pemerintah buat Lansia Entrepreneur bagi tulang punggung keluarga

Di tingkat sistem, kata Imran, pengukuran hasil fungsional, bukan sekadar perbaikan gejala, mengubah standar layanan klinis dan rehabilitasi. Ketika usia biologis menjadi tolok ukur yang dapat dimodifikasi, penuaan tidak lagi dipandang sebagai takdir yang tak terelakkan, melainkan sebagai proses yang dapat dipengaruhi melalui intervensi yang terukur.

"Bagi individu, perubahan ini menuntut penyesuaian gaya hidup: latihan yang menekankan kekuatan, keseimbangan, dan mobilitas; perhatian serius pada kualitas tidur; serta pola makan yang mendukung massa otot dan kesehatan metabolik," ujarnya.

Menurutnya, mengukur indikator fungsional dan biomarker sederhana dapat membantu menilai kemajuan dan menyesuaikan intervensi yang diperlukan.

Bagi perusahaan, katanya, program kesejahteraan perlu dirancang ulang agar mendukung kapasitas jangka panjang dengan mengintegrasikan pelatihan fungsional, manajemen tidur, dan dukungan nutrisi, serta menggunakan metrik fungsional sebagai indikator keberhasilan.

"Untuk pembuat kebijakan dan perancang ruang, implikasinya meliputi kebutuhan akan infrastruktur yang mendukung mobilitas seumur hidup: akses tanpa hambatan, permukaan yang aman, dan ruang publik yang mendorong aktivitas fungsional," kata dia.

Imran menilai, ketika fokus bergeser ke kemampuan fungsional dan gerosains menjadi bahasa umum, memperpanjang masa hidup sehat bukan lagi sekadar idealisme, melainkan tujuan yang dapat dicapai melalui tindakan nyata.

Baca juga: Kemenkes: Infrastruktur ramah lansia investasi HALE nasional

Baca juga: Peringati HLUN 2025, Mendukbangga harap lansia menua dengan berarti

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |