Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama menggandeng peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta untuk mengindeksasi pendidikan agama Islam di sekolah.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan indeksasi ini bertujuan menyediakan data dasar (baseline data) yang objektif, terstandar, dan berkelanjutan guna mengukur keberhasilan pendidikan agama di sekolah.
“Pendidikan agama di sekolah berada dalam ranah pedagogis. Capaian pembelajaran diukur melalui tiga domain utama, yakni kognitif, psikomotorik, dan afektif,” ujar Suyitno di Jakarta, Selasa.
Suyitno mengatakan asesmen tersebut sebagai langkah dalam peningkatan kualitas layanan pendidikan agama di sekolah dengan menyediakan data baseline indeks komposit pendidikan agama.
Indeksasi ini juga sekaligus menjawab kebutuhan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Agama dan Kementerian/Lembaga terkait tentang indeks PAI serta menjadi baseline dalam pengambilan kebijakan
“Karena itu, Kemenag menggunakan Taksonomi Bloom sebagai kerangka konseptual utama dalam penyusunan Indeks Pendidikan Agama,” kata dia.
Menurut Suyitno, pendekatan tersebut memastikan hasil pengukuran benar-benar mencerminkan keluaran dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah.
Selama ini, kata dia, sejumlah lembaga menggunakan teori religiositas Glock dan Stark yang lebih menyoroti praktik dan ekspresi keberagamaan masyarakat dari perspektif sosiologis.
“Indeksasi yang dikembangkan Kemenag secara khusus memotret hasil pendidikan agama di sekolah. Fokusnya pada kompetensi pedagogis peserta didik dan guru, bukan semata tingkat keberagamaan sosial,” ujarnya.
Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag M. Munir mengatakan pada tahap awal asesmen Indeks Pendidikan Agama Islam Tahun 2025 difokuskan pada jenjang sekolah dasar (SD).
Pemilihan jenjang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa SD merupakan fase pendidikan paling dasar dan fondasional dalam membangun literasi keagamaan, pemahaman ajaran pokok, sikap sosial, serta kebiasaan ibadah peserta didik.
Munir mengatakan hasil asesmen terhadap 160.143 guru PAI di seluruh Indonesia menunjukkan pemahaman ajaran dasar agama sebesar 62,34, pengamalan ibadah pokok sebesar 85,96, pengamalan ibadah sosial sebesar 88,68, sikap sosial sebesar 82,80, serta sikap terhadap lingkungan (hidup, budaya, dan negara) sebesar 88,78.
Kemudian, kata dia, sebagai bentuk triangulasi, kemampuan membaca Al Quran guru diuji melalui perekaman langsung dan dinilai oleh pakar dari PTIQ.
"Hasilnya, kategori membaca mahir tercatat 11,35 persen, kategori menengah 30,39 persen, dan kategori dasar 58,26 persen, dengan rata-rata nasional 57,17 persen," ujarnya.
Sedangkan asesmen terhadap peserta didik SD difokuskan pada siswa kelas V. Survei dilakukan dengan metode sampel tingkat kepercayaan 95 persen, melibatkan 13.582 siswa dari total populasi nasional 23.836.575 siswa dan 3.251.617 siswa kelas 5 SD.
Hasil asesmen siswa menunjukkan pemahaman pada Aspek kognitif pemahaman ajaran dasar agama indikator terlemah adalah memahami rukun iman (57.43); indikator terkuat adalah memahami ihsan (74.15).
Untuk Aspek psikomotorik, pengamalan ibadah ritual indikator terlemah pada mendaras Al-Quran (77.46); indikator terkuat adalah berdoa (81.55). Aspek psikomotorik pengamalan ibadah sosial indikator terlemah pada shalat berjamaah (80.69); indikator terkuat adalah memberikan sebagian harta (infak dan sedekah) (87.26).
Selanjutnya, Aspek afektif sikap sosial indikator terendah pada sikap kesetaraan (64.03); indikator terkuat adalah kerjasama (82.60). Aspek afektif sikap terhadap lingkungan (alam, budaya, dan negara) indikator terendah pada sikap terhadap budaya (75.07); indikator terkuat adalah sikap terhadap alam (79.58).
Baca juga: Wamenag: Insan Kemenag harus menjadi teladan di tengah masyarakat
Baca juga: Pamitan, Ditjen PHU terbitkan buku memori 75 tahun Kemenag kelola haji
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































