Kebiasaan-kebiasaan yang bisa memicu peningkatan hormon stres

1 month ago 17

Jakarta (ANTARA) - Akumulasi kebiasaan sehari-hari bisa membuat hormon kortisol tetap aktif dan kondisi ini dapat menimbulkan stres, kegelisahan, atau kelelahan emosional terus menerus.

Sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Jumat (2/1), dokter ahli anestesi dan pengobatan nyeri Kunal Sood mengemukakan kebiasaan sehari-hari yang dapat mengganggu keseimbangan kortisol, yang disebut hormon stres, dan meningkatkan respons stres tubuh.

"Kortisol membantu Anda mengatasi stres, tetapi kebiasaan sehari-hari dapat membuat kadarnya tetap tinggi atau mengganggu ritme normalnya. Hal ini dapat memengaruhi tidur, metabolisme, suasana hati, dan pemulihan. Peningkatan kortisol sering kali berasal dari berbagai stres harian," ia menjelaskan.

Berikut kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang menurut Dr. Kunal Sood bisa mengganggu keseimbangan kortisol di dalam tubuh.

Kurang tidur

Dr. Sood menyampaikan bahwa tidur cukup membantu menekan kadar kortisol pada malam hari dan kurang tidur malam menyebabkan hormon stres ini meningkat, memperbesar respons stres keesokan harinya.

Olahraga berlebihan

Latihan olahraga berlebihan tanpa istirahat cukup dapat membuat kadar kortisol tetap tinggi dan mengganggu keseimbangan stres tubuh.

"Olahraga meningkatkan kortisol secara singkat, lalu seharusnya kembali normal. Ketika latihan melebihi pemulihan, ritme kortisol menjadi tidak normal, mencerminkan disfungsi sumbu HPA, bukan adaptasi yang sehat," kata Dr Sood.

Baca juga: Bersenandung bisa bantu redakan stres dan cemas

Konsumsi kafein berlebihan

Menurut Dr. Sood, kafein adalah stimulan yang meningkatkan kewaspadaan dengan menaikkan kadar kortisol, yang ketika dikombinasikan dengan stres berkelanjutan bisa menimbulkan efek berlipat ganda terhadap respons stres tubuh.

Melewatkan waktu makan

Selain mengganggu metabolisme, Dr Sood mengatakan, melewatkan waktu makan, terutama sarapan, dapat meningkatkan kadar kortisol.​​​​​​​

"Kortisol meningkat untuk menjaga kadar glukosa darah, dan kebiasaan sering melewatkan makan mengubah ritme kortisol normal," katanya.

Terlalu lama menatap layar

Paparan layar dan cahaya biru berlebihan juga dapat mengubah ritme kortisol dan memicu gangguan tidur. Dr Sood menjelaskan bahwa waktu layar yang tinggi berkaitan dengan kortisol yang lebih tinggi pada sore hingga malam hari.

"Cahaya biru mengganggu ritme sirkadian, menekan melatonin, memperburuk kualitas tidur, dan secara tidak langsung meningkatkan kortisol pada malam hari," katanya.

Baca juga: Tanda-tanda tubuh stres karena olahraga berlebihan

Baca juga: Kenali perubahan emosi dan respons tubuh yang menandakan stres

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |