Jakarta (ANTARA) - Kampung Legendaris 2026 menjaga kebersihan makanan yang disajikan melalui inspeksi berkala terhadap dapur dan area pengolahan kuliner yang mengikuti kegiatan tersebut.
General Manager Mal Ciputra Jakarta Ferry Irianto mengatakan pihaknya menyediakan area khusus bagi pelaku kuliner untuk mengolah dan mengemas makanan guna menjaga aspek kebersihan sekaligus mempertahankan keautentikan produk.
“Kami memberikan area khusus bagi mereka untuk mengemas dan memasak produknya agar higienis dan tetap otentik,” ujar Ferry saat pembukaan Kampung Legendaris 2026 di Mal Ciputra Jakarta, Rabu.
Menurut dia, pengolahan makanan tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena kondisi tempat pengolahan dapat memengaruhi kepercayaan pengunjung terhadap produk yang ditawarkan.
Baca juga: Diboyong dari Solo, ayam goreng Kleco yang legendaris ada di Jakarta
Baca juga: Mercure Batavia sajikan bubur syurbah legendaris khas Pekojan
“Kami tidak sembarangan mengizinkan pengolahan produk karena jika terkesan tidak higienis, pasti akan ada komplain dari pengunjung,” katanya.
Ferry mengatakan Mal Ciputra juga meminta para pelaku kuliner menjaga kebersihan selama proses pengolahan makanan.
Selain itu, tim internal Mal Ciputra melakukan inspeksi terhadap dapur dan tempat pengolahan makanan untuk memastikan pelaku usaha menjalankan ketentuan yang diterapkan selama kegiatan.
“Ada. Tim internal kami selalu menginspeksi dapur dan tempat mereka mengolah produk,” ujarnya.
Kampung Legendaris 2026 menghadirkan lebih dari 40 kuliner legendaris dan autentik dari berbagai daerah Indonesia di Mal Ciputra Jakarta pada 12-23 Agustus 2026.
Baca juga: Asal usul dan sejarah Coto Makassar
Ferry mengatakan aspek kebersihan menjadi perhatian karena kuliner yang dibawa dari berbagai daerah tetap harus memenuhi kondisi pengolahan yang layak ketika disajikan kepada masyarakat di Jakarta.
Pengelolaan kebersihan tersebut menjadi relevan dengan upaya pengembangan wisata gastronomi yang dilakukan pemerintah. Kementerian Pariwisata mendorong gastronomi sebagai bagian dari daya tarik pariwisata melalui Wonderful Indonesia Gourmet (WIG).
Dalam pengembangan gastronomi, pengalaman wisatawan tidak hanya berkaitan dengan cita rasa dan keautentikan makanan, tetapi juga kualitas pengelolaan makanan yang disajikan.
Ferry mengatakan pihaknya juga mempertimbangkan harga agar kuliner yang dihadirkan dapat dijangkau masyarakat, terutama generasi muda, dengan tetap memperhitungkan biaya yang dikeluarkan pelaku usaha untuk membawa bahan baku dari daerah asal.
“Kami berupaya semaksimal mungkin agar harga tersebut bisa diterima masyarakat, terutama generasi muda, namun tetap sesuai dengan perhitungan bisnis para pedagang,” katanya.
Baca juga: Jakarta bisa menjadi etalase untuk perkenalkan kuliner Nusantara
Baca juga: Rahasia panjang umur di balik rasa pedas
Baca juga: Mengenal sejarah tempe kedelai, makanan fermentasi khas nusantara
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































