Jakarta (ANTARA) - Permukiman warga di RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, terendam banjir hingga ketinggian air mencapai 120 sentimeter (cm) akibat luapan Kali Sunter, pada Kamis malam.
"Untuk saat ini, yang paling dalam itu di pinggir kali mencapai 120 cm. Itu terjadi di RT 04, RT 01, dan RT 02. Sementara RT lain seperti RT 05 dan RT 07 sekitar 50 sentimeter, sedangkan RT 06 belum terdampak," kata Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 04 Cipinang Melayu, Subagyo di lokasi banjir, Kamis.
Tinggi banjir 120 sentimeter ini terus mengalami peningkatan sejak sore hingga malam hari. Genangan paling parah terjadi di wilayah yang berada di bantaran kali. Beberapa RT terdampak cukup serius dengan ketinggian air mendekati satu setengah meter.
Menurut Subagyo, kenaikan muka air terjadi sangat cepat. Dia menyebut air mulai meninggi signifikan sekitar pukul 18.30 WIB.
"Tadi sore saya sempat cek ke ujung, masih sekitar 40 sampai 50 cm. Tapi setelah Magrib, sekitar jam 18.30 WIB, air naik cepat sekali. Sekarang sudah sampai ke wilayah RT 5 bagian atas," jelasnya.
Baca juga: Banjir sebabkan kemacetan di Jalan DI Panjaitan Jaktim
Menurut Subagyo, tingginya curah hujan yang berlangsung cukup lama menjadi penyebab utama banjir. Selain itu, luapan Kali Sunter turut memperparah kondisi di permukiman warga RW 04 Cipinang Melayu.
Sementara itu, Ketua RW 04 Cipinang Melayu Yoni Triorama mengatakan, hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi, namun pihaknya telah menyiapkan skema evakuasi apabila ketinggian air terus bertambah.
"Instruksi dari pengurus RW, bila ketinggian air sudah melebihi 150 cm, warga akan kita arahkan untuk mengungsi ke Kampus Universitas Borobudur. Itu jadi satu titik pengungsian," kata Yoni.
Untuk sementara, warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu air surut. Sebagian warga telah mengamankan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.
"Warga sudah biasa dengan kondisi seperti ini, biasanya menunggu surut. Tapi kalau memang air tidak surut atau justru naik, nanti warga akan mengungsi secara bertahap," ujarnya.
Baca juga: Banjir Jakarta, 132 RT dan 22 jalan terendam pada Kamis malam
Saat ini, aktivitas warga di lokasi terdampak terpantau terbatas. Sebagian besar warga memilih bertahan di rumah dan memantau ketinggian air.
"Sekarang warga masih menunggu air. Kalau surut langsung dikuras, tapi kalau tetap bertahan dan naik, warga akan mengungsi ke Universitas Borobudur," lanjut Yoni.
Menurut dia, wilayahnya memang kerap terdampak saat banjir terjadi. "Itu langganan, kalau banjir pasti mereka terdampak. Dan ini hanya terjadi di satu RW saja, yaitu RW 4. Tapi untuk tahun 2026 ini, ini pertama kalinya kita mengalami banjir," ucap Yoni.
Terkait bantuan dari pemerintah, Yoni menyebut hingga kini belum ada bantuan yang masuk ke lokasi. Biasanya, bantuan akan disalurkan setelah proses pendataan warga terdampak dilakukan, terutama jika sudah ada warga yang mengungsi.
"Biasanya ada bantuan dari PMI dan Dinas Sosial. Tapi sejauh ini belum ada. Pendataan baru kita mulai setelah warga mengungsi. Setiap RT mendata warganya, lalu diserahkan ke RW dan diteruskan ke kelurahan," jelas Yoni.
Hingga saat ini, warga RW 04 Cipinang Melayu masih bersiaga dan berharap air segera surut, sementara pengurus wilayah terus memantau perkembangan ketinggian air dan kesiapan lokasi pengungsian.
Baca juga: Katulampa Siaga 3, Kebon Pala terendam banjir hingga satu meter lebih
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































