Cirebon (ANTARA) - Rumah itu tampak lelah dimakan usia. Cat dindingnya tak lagi rata. Jendela kayunya memudar dan pilar putih di terasnya menyisakan guratan waktu.
Orang mungkin melintas begitu saja saat melewati Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Sekilas, tak ada yang istimewa dari bangunan tua tersebut.
Namun, dari rumah inilah seratus porsi kuliner khas Timur Tengah di Cirebon selalu dibagikan kepada warga sekitar, sesaat sebelum azan magrib berkumandang.
Jika wangi rempah tajam mulai menyusup ke sela-sela jendela rumah tua berarsitektur indis tersebut, maka itu tandanya Ramadhan telah tiba.
Pada Sabtu (21/2) siang itu, ANTARA menyambangi rumah tersebut untuk melihat lebih dekat rutinitas warga Panjunan yang hanya hadir setiap Ramadhan.
Jarum jam menunjukkan pukul 14.23 WIB. Pada salah satu ruangan ada meja panjang berlapis taplak bermotif batik, yang di atasnya terdapat kotak-kotak styrofoam.
Uap tipis membumbung dari baskom besar berwarna biru. Di dalamnya tampak adonan bertekstur liat namun lembut luluh bersama santan dan daging kambing.
Sendok plastik hijau bergerak perlahan, mengaduknya dengan ritme teratur. Batang serai dan daun rempah menyembul dari permukaan, menebarkan aroma hangat yang meruap dan mengendap di langit-langit.
Fatimah Bayasut (67) berdiri di samping meja. Tangannya bergerak cekatan. Satu sendok diangkat, dituangkan, lalu diratakan. Kotak penuh digeser, diganti yang kosong.
Di salah satu dinding, potret pendiri yayasan tergantung rapi. Seolah mengawasi dalam diam, mengingatkan kegiatan ini telah menjadi tradisi lintas generasi.
Beginilah suasana penyajian bubur harisah, kuliner khas Ramadhan yang masih bertahan di Kampung Arab Panjunan, Cirebon.
Baca juga: Kemenbud sebut Cirebon berpotensi jadi pusat riset topeng
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































