Jejak literasi dan numerasi dalam mencetak SDM unggul IKN

1 week ago 5
Penguatan literasi dan numerasi merupakan investasi jangka panjang. Setiap halaman yang dibaca, setiap angka yang dipahami, dan setiap kemampuan berpikir yang diasah hari ini akan menjadi bekal penting bagi generasi mendatang dalam berkontribusi bagi

Nusantara (ANTARA) - Di tengah deru pembangunan infrastruktur yang menjulang di Ibu Kota Nusantara (IKN), ada satu hal lain yang dibangun dengan penuh ketelatenan. Bukan jalan raya, bukan pula gedung perkantoran, melainkan kualitas berpikir dan karakter generasi penerus bangsa.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), dengan dukungan Program INOVASI Kemitraan Pemerintah Indonesia–Australia, terus memperkuat fondasi pendidikan dasar melalui program penguatan literasi dan numerasi.

Upaya ini menjadi langkah nyata agar IKN tidak hanya dikenal sebagai kota yang megah secara fisik, tetapi juga sebagai tempat lahirnya sumber daya manusia yang cerdas, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

Sejak diluncurkan pada 2024, program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Program ini berjalan secara berkelanjutan dan menjangkau ruang-ruang kelas di kawasan Sepaku serta wilayah penyangga IKN.

Hingga pertengahan Juni 2026, telah dilaksanakan delapan kali rangkaian pendampingan rutin. Puncaknya berlangsung pada 11 Juni 2026 melalui kegiatan Gelar Karya Peningkatan Mutu Pembelajaran Sekolah Dasar.

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin, menyampaikan bahwa dampak program ini telah mulai dirasakan secara nyata.

Penguatan literasi dan numerasi yang dijalankan sejak 2024 telah membawa perubahan pada proses pembelajaran di sekolah-sekolah yang secara rutin mendapatkan pendampingan. Perubahan itu tidak hanya tercermin dari meningkatnya kemampuan siswa, tetapi juga dari perubahan cara pandang dan cara kerja para pendidik.

Transformasi tersebut tampak jelas di ruang-ruang kelas. Guru tidak lagi sekadar menyampaikan materi secara satu arah, melainkan mulai memahami kebutuhan belajar setiap anak secara lebih mendalam.

Asesmen pun tidak lagi hanya berfungsi untuk mengukur hasil akhir pembelajaran, tetapi menjadi dasar dalam merancang strategi mengajar yang lebih tepat sasaran.

Pembelajaran juga menjadi lebih kontekstual karena dikaitkan dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami bahwa apa yang mereka pelajari memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Perubahan serupa terjadi pada kepala sekolah dan pengawas. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang aktif mendampingi guru dan siswa dalam proses belajar.

“Inilah inti dari perubahan. Membangun sistem pendidikan yang berpusat pada peningkatan mutu, bukan sekadar memenuhi target formalitas,” ujar Alimuddin.

Baca juga: Pembangunan IKN diarahkan juga ke sembilan wilayah perencanaan

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |