Jakarta harus bisa jadi teladan Gerakan Ayah Mengambil Rapor

1 month ago 23

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta, Prof. Dr. Susanto berpendapat Jakarta yang masih menyandang status Ibu Kota Negara harus bisa menjadi barometer dan contoh peran ayah dalam pengasuhan, salah satunya melalui partisipasi dalam "Gerakan Ayah Mengambil Rapor".

Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah yang diluncurkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, sambung dia, merupakan langkah konkret untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, di tengah tingginya fenomena fatherless di Indonesia.

"Kebijakan ini stimulasi agar ayah hadir dalam pengasuhan yang efektif. apalagi di era digital saat ini peran ayah sangat diperlukan seiring anak lekat dengan media digital dan ragam masalah anak dari dampak digital," kata Ketua KPAI Periode 2017- 2022 itu saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.

Susanto mengatakan, fatherless atau father absence adalah pengalaman emosional yang melibatkan pikiran dan perasaan seseorang tentang kekurangan kedekatan atau kasih sayang dari ayah karena ketidakhadirannya secara fisik, emosional, dan psikologis dalam perkembangan kehidupan individu.

Kondisi ini berkorelasi dengan meningkatnya risiko masalah perilaku dan karakter pada anak, antara lain menyebabkan anak rentan minder, rendahnya kontrol diri, lari dari masalah dan menjadi individu yang mudah menyerah.

Dia merujuk olahan data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik Maret 2024, mengemukakan, saat ini sekitar 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah. Angka ini setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun.

Sementara khusus di Jakarta, Susanto berpendapat masih banyak ayah yang kurang menyadari pentingnya peran mereka dalam pengasuhan anak.

"Masyarakat Jakarta masih perlu berusaha untuk meningkatkan kualitas tersebut. Gerakan ayah teladan di DKI Jakarta tentu tak semata untuk keperluan Gerakan Ayah Ambil Rapor tapi juga untuk membangun kelekatan antara ayah dengan anak," jelas dia.

Menurut dia, ayah tak semata sebagai orang tua namun juga sebagai sahabat, teman diskusi, pelindung, dan inspirasi. Hal ini penting agar anak menjadi pribadi yang paripurna, berkarakter unggul dan tangguh menghadapi masa depan.

Usulan

Lalu, agar Gerakan Ayah Mengambil Rapor tidak berhenti sebagai agenda simbolik, Susanto mengatakan, diperlukan sejumlah penguatan strategi salah satunya perluasan makna keterlibatan ayah.

"Gerakan ini perlu ditegaskan sebagai pintu masuk keterlibatan ayah yang berkelanjutan, tidak hanya hadir saat pembagian rapor, tetapi juga dalam kegiatan sekolah lain seperti pertemuan wali murid, pendampingan belajar, dan penguatan karakter anak," kata dia.

Selanjutnya, diperlukan kolaborasi dengan dunia kerja. Dalam hal ini, perlu ada kebijakan yang lebih kuat dari instansi pemerintah dan swasta, seperti surat edaran internal atau kebijakan ramah keluarga, agar ayah benar-benar memiliki ruang dan waktu untuk terlibat.

Strategi lainnya yakni pendampingan edukatif bagi ayah. Susanto memahami, tidak semua ayah memiliki pengalaman atau pengetahuan dalam membaca rapor dan mendiskusikannya dengan anak. Karena itu, pihak sekolah dan BKKBN dapat menyediakan panduan singkat atau sesi edukasi tentang peran ayah dalam mendampingi prestasi dan kesehatan mental anak.

Selain itu, diperlukan juga monitoring dan evaluasi berbasis data, serta indikator keberhasilan yang terukur, seperti peningkatan kehadiran ayah, kualitas komunikasi orang tua–sekolah, serta dampaknya terhadap motivasi dan perkembangan anak.

Baca juga: Kemendukbangga lakukan koordinasi terkait izin ayah ikut GEMAR

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |