Iran dan pertarungan simbol: Bendera bicara, dunia mendengar

3 hours ago 2
konflik di Iran hari ini bukan semata-mata benturan senjata, tapi juga merupakan pertarungan simbol; sebuah gelanggang tempat panji, warna, dan makna saling berebut ruang pengaruh, dari geopolitik kawasan hingga imajinasi masyarakat dunia.

Jakarta (ANTARA) - Di penghujung Februari 2026, perhatian dunia tertuju pada Iran —bangsa bersejarah panjang seluas sekitar 1,65 juta kilometer persegi di Timur Tengah—, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah lokasi, termasuk Teheran. Teluk Persia pun kembali menjadi saksi pertumpahan darah.

Memasuki pekan keempat, perang masih jauh dari titik terang. Kedua kubu saling mengklaim keberhasilan strategis sembari membantah narasi lawan. Selama sebulan terakhir —dan tampaknya masih akan berlanjut— layar kaca serta jagat maya dipenuhi simbol putih-biru bertatahkan bintang Daud, representasi Israel.

Namun, konflik ini tak dapat dipahami hanya dalam hitungan bulan. Sejak Oktober 2023, ketika serangan Israel ke Gaza dimulai, bendera Israel telah mendominasi ruang publik fisik maupun digital, berhadapan dengan panji pan-Arab Palestina berwarna merah, hitam, putih, dan hijau. Kedua simbol itu perlahan membelah dunia, bukan hanya di medan tempur, tetapi juga dalam ruang percakapan global.

Setelah hampir tiga tahun dunia disibukkan oleh dua panji yang saling bertolak belakang itu, Iran kini hadir sebagai wajah baru dengan triwarna hijau, putih, dan merah yang memenuhi jalanan, gedung, ruang redaksi, hingga media sosial.

Tanpa mengerdilkan bendera Amerika Serikat yang telah lama menjadi bagian budaya pop global, menjamurnya simbol Israel, Palestina, dan Iran menegaskan satu hal, bahwa kekuatan simbol tetap menjadi bahasa politik paling tua sekaligus paling bertahan dalam peradaban manusia.

Karena itu, alih-alih menelaah Iran melalui lensa strategi, ekonomi, atau geografi, tulisan ini memilih jalur lain, yakni mengenal negara yang tengah berperang melalui panji yang mewakilinya selama hampir setengah abad, beserta simbol kuno nan kontroversial yang kembali menemukan momentumnya.

Merah, Islam, dan tulip

Bendera merupakan instrumen identitas paling sederhana sekaligus paling efektif. Ia tidak sekadar menandai sebuah bangsa, tetapi juga menggaungkan ideologi, falsafah, harapan, bahkan ambisi kolektif yang diwakilinya. Hampir seluruh negara mengandalkan simbolisme ini, termasuk mereka yang pengakuan internasionalnya terbatas, bahkan nihil.

Republik Islam Iran kini memasuki dasawarsa kelima di bawah bendera triwarna horizontal hijau, putih, dan merah, panji yang diakui luas oleh komunitas internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca juga: Navigasi strategis Indonesia di balik perang narasi AS-Israel dan Iran

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |