Shenzhen (ANTARA) - Dalam sebuah video viral di media sosial, legenda NBA Shaquille O'Neal menjajal robot eksoskeleton buatan China, dan setelah mencoba gerakan lari, dia berseru, "Ringan sekali! Saya harus membawanya pulang ke Amerika Serikat (AS)."
Kenqing Technology, sebuah perusahaan rintisan (startup) berbasis di Shenzhen yang mengembangkan produk cyborg ini, merupakan salah satu perusahaan teknologi China yang sedang mengembangkan solusi untuk menghadapi tantangan populasi lanjut usia (lansia) di negara tersebut melalui inovasi-inovasi serupa.
Perusahaan-perusahaan ini berada di garis depan dalam kreativitas elektronik baru China, yang merupakan bagian dari peralihan industri besar-besaran negara tersebut menuju "kekuatan produktif berkualitas baru".
Daftar "Penemuan Terbaik 2025" (The Best Inventions of 2025) versi majalah TIME, yang memuat 300 produk dan dirilis bulan ini, menarik perhatian karena lebih dari 40 di antaranya berasal dari China. Sebagian besar di antaranya merupakan perangkat elektronik konsumen yang memiliki potensi besar untuk menghadirkan perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mereka yang ingin untuk mencoba gadget terbaru, deretan rekomendasi ini menampilkan beragam inovasi rancangan China yang mengesankan, mulai dari mobil listrik BYD dan ponsel pintar (smartphone) terbaru Huawei, hingga model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kacamata realitas tertambah (augmented reality/AR), kamera drone 360 derajat, robot bipedal yang dapat diprogram, laptop bertenaga surya, serta monitor pemantauan burung pintar.
Unitree R1 merupakan sebuah robot lincah yang dibanderol dengan harga mulai di bawah 6.000 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.628). Selain itu, model yang diluncurkan oleh startup berbasis di Beijing pekan lalu, dibanderol dengan harga di bawah 1.500 dolar AS dan akan mulai memasuki masa prapenjualan (pre-sale) pada November.
Aksesibilitas semacam ini, khususnya, dimungkinkan berkat rantai industri yang lengkap dan respons manufaktur yang cepat di China.
Kawasan Delta Sungai Yangtze dan Delta Sungai Mutiara di China memiliki rantai pasokan yang sangat berkembang, ungkap Zhao Tongyang, pendiri EngineAI, sebuah startup robotik yang berbasis di Shenzhen.
"Misalnya, komponen yang sebelumnya berharga 2.000 yuan (1 yuan = Rp2.338) untuk diimpor, kini dapat diproduksi secara lokal hanya dengan 200 yuan."
Rencana lima tahun berikutnya untuk pembangunan ekonomi dan sosial China, yang saat ini sedang dirumuskan, secara luas diperkirakan akan menetapkan strategi guna memperkuat fondasi ekonomi melalui basis manufaktur yang kokoh dan membangun sistem industri modern dengan manufaktur canggih sebagai tulang punggungnya.
Kemunculan model penalaran DeepSeek R1 pada awal tahun ini, yang disebut oleh editor majalah TIME untuk kategori penemuan terbaik sebagai "terobosan yang menggemparkan dunia" di kalangan AI, menandai kemajuan terbaru China dalam teknologi digital. Namun, agenda AI China memiliki fokus yang jelas pada penerapan AI dalam produk-produk berwujud yang dapat digunakan.
Rokid, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Hangzhou, belum lama ini meraih kesuksesan besar lewat produk kacamata AR terbarunya yang memungkinkan pengguna menyampaikan pidato dengan lancar melalui tampilan naskah langsung dalam bidang pandang mereka. Pesanan global untuk perangkat AI ini melampaui 250.000 unit, tidak lama setelah diluncurkan pada Juni 2025.
Demikian pula, semakin banyak perangkat pintar yang dikembangkan dalam negeri, seperti robot penyedot debu, yang mulai mendominasi pangsa pasar secara global. Para insinyur China kini menunjukkan keahlian yang signifikan dalam mengintegrasikan algoritma pintar dengan perangkat keras.
Misalnya, robot pemotong rumput dan pembersih kolam renang yang dapat merencanakan tugas secara otonom, kini memenuhi kebutuhan para pengguna luar negeri yang sebelumnya belum terpenuhi dan mengubah keunggulan teknis China menjadi produk yang laris.
"Desain dan kreasi asal China yang menjadi produk populer di pasar global akan semakin sering dijumpai," ujar Ren Guanjiao, pendiri Willand, sebuah produsen pemotong rumput yang berbasis di Beijing.
Penemuan China lain yang meraih penghargaan meningkatkan kualitas bangunan dengan membuatnya lebih hemat energi sekaligus menarik secara estetika. Atap surya baru dari Jackery dilengkapi genteng melengkung, yang pertama di pasaran yang dirancang agar menyatu secara visual dengan lingkungan yang didominasi atap terakota. Hal ini membuktikan bahwa panel surya juga bisa memenuhi tuntutan estetika.
"Panel surya kini tidak lagi bertentangan dengan aturan desain atau batasan Asosiasi Pemilik Rumah (Home Owner Association/HOA) di AS," tutur Sun Zhongwei, CEO perusahaan asal Shenzhen tersebut.
Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































