Jakarta (ANTARA) - India menawarkan pajak nol hingga tahun 2047 kepada para penyedia layanan cloud asing, memberlakukan insentif itu untuk layanan yang dijual ke luar negeri selama mereka menjalankan beban kerja tersebut dari pusat data di India.
Menurut siaran TechCrunch pada Minggu (1/2), penawaran insentif pajak itu merupakan bagian dari upaya untuk menarik gelombang investasi komputasi (Artificial Intelligence/AI) berikutnya.
Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman pada Minggu (1/2) mengumumkan proposal tersebut dalam penganggaran tahunan negara, menawarkan keringanan pajak yang pada praktiknya berarti pajak nol atas pendapatan dari layanan cloud yang dijual ke luar negeri asal layanan itu dioperasikan dari pusat data di India.
Dia juga menyampaikan bahwa untuk penjualan kepada pelanggan di India, layanan harus disalurkan melalui reseller yang didirikan secara lokal dan dikenai pajak domestik.
Pengumuman mengenai kebijakan insentif pajak tersebut muncul saat raksasa layanan cloud asal Amerika Serikat 9AS) seperti Amazon, Google, dan Microsoft berlomba menambah kapasitas pusat data di seluruh dunia guna mendukung lonjakan kebutuhan komputasi AI.
Dengan banyak talenta bidang teknik dan permintaan layanan cloud yang terus tumbuh, India memposisikan diri sebagai alternatif AS, Eropa, dan sejumlah wilayah Asia untuk perluasan infrastruktur komputasi.
Baca juga: Google investasikan 15 miliar dolar AS untuk pusat data AI pertama di India
Google, Microsoft, dan Amazon telah mengumumkan investasi besar untuk memperluas infrastruktur AI dan cloud di India.
Google berencana menanamkan 15 miliar dolar AS setelah investasi 10 miliar dolar AS pada 2020, sementara Amazon menambah investasi 35 miliar dolar AS hingga 2030 sehingga total investasinya mencapai sekitar 75 miliar dolar AS di India.
Microsoft menyiapkan investasi 17,5 miliar dolar AS hingga 2029 untuk memperluas jejak AI dan komputasi awan serta mendanai pusat data baru, infrastruktur, dan program pelatihan.
Pusat data domestik India juga berusaha meningkatkan kapasitas untuk memenuhi permintaan global.
Digital Connexion akan menginvestasikan 11 miliar dolar AS hingga 2030 untuk membangun kampus pusat data AI berkapasitas 1 gigawatt di Andhra Pradesh.
Adani Group berencana berinvestasi hingga 5 miliar dolar AS bersama Google untuk proyek pusat data AI di India.
Baca juga: Arab Saudi mulai bangun pusat data berkapasitas 480 MW
Namun, memperbesar kapasitas pusat data di India tidaklah mudah. Ketersediaan listrik yang tidak merata, biaya listrik yang tinggi, serta kelangkaan air menjadi kendala utama bagi beban kerja AI yang sangat intensif energi.
Tantangan-tantangan ini berpotensi memperlambat pembangunan dan meningkatkan biaya operasional penyedia layanan cloud.
"Pengumuman tentang pusat data menandakan bahwa sektor ini diperlakukan sebagai sektor bisnis strategis, bukan hanya infrastruktur pendukung," kata Rohit Kumar, mitra pendiri The Quantum Hub, sebuah perusahaan konsultan kebijakan publik dan teknologi yang berbasis di New Delhi.
Menurut dia, dorongan ini kemungkinan akan menarik lebih banyak investasi swasta dan memperkuat posisi India sebagai pusat data dan komputasi regional, meski tantangan dalam hal pasokan listrik, akses lahan, dan perizinan di tingkat negara bagian masih ada.
Sagar Vishnoi, salah satu pendiri dan direktur lembaga pemikir Future Shift Labs yang berbasis di Noida, menyampaikan bahwa kapasitas listrik pusat data India diperkirakan melampaui 2 gigawatt pada 2026, naik dari sedikit di atas 1 gigawatt saat ini.
Ia menambahkan, kapasitas listrik pusat data dapat meningkat lebih dari lima kali lipat menjadi lebih dari 8 gigawatt pada 2030 didorong oleh investasi modal lebih dari 30 miliar dolar AS.
Vishnoi mengatakan bahwa mengizinkan perusahaan komputasi awan asing untuk memperoleh keuntungan berupa pembebasan pajak hingga tahun 2047 mencerminkan "taruhan strategis pada perusahaan teknologi besar global" bahkan ketika India dapat menghasilkan perusahaan teknologi unggulan sendiri selama dua dekade mendatang.
Baca juga: Kemkomdigi operasikan Pusat Data Nasional 1 secara terbatas
Baca juga: Beijing akan bangun pusat data antariksa di orbit 800 km di atas Bumi
Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































