Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menekankan pentingnya institusionalisasi partai saat menjadi pembicara utama dalam forum internasional Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Makati, Filipina, Jumat.
Dalam paparan bertajuk The Institutionalization of Political Parties, Resilience, and Strategic Campaigns, Hasto membedah bagaimana institusionalisasi organisasi menjadi kunci utama sebuah partai politik mampu bertahan menghadapi tekanan.
Menurut Hasto, pada Pemilu 2024, PDIP menghadapi tekanan yang tidak mudah. Namun, lanjut dia, PDIP tetap mampu bertahan dan keluar sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2024, bahkan di tingkat kabupaten-kota kursi bertambah 14 kursi secara total.
"Inilah bukti nyata dari resiliensi atau daya tahan partai yang telah terinstitusionalisasi," kata Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.
Hasto juga memaparkan kunci di balik resiliensi PDIP yang bersumber pada kepemimpinan strategis Megawati Soekarnoputri. Kepemimpinan itu bukan sekadar gaya manajerial, melainkan ideologi yang terinstitusionalisasi melalui tujuh indikator utama.
Tujuh indikator itu, yakni berpikir kritis (critical thinking), visi (vision), arahan (direction), nilai-nilai inti (core values), biopolitik, keberpihakan (alignment), komitmen (commitment).
Menurut Hasto, perpaduan antara kepemimpinan strategis Megawati dan institusionalisasi partai memungkinkan PDIP memiliki sifat yang fleksibel, adaptif, dan memiliki kapasitas bertahan hidup yang tinggi (survival capacity) dalam menghadapi berbagai guncangan internal maupun eksternal.
Dalam forum yang dihadiri oleh tokoh politik seperti Florencio "Butch" Abad dari Filipina dan Chee Soon Juan dari Singapura itu, Hasto menutup paparannya dengan mengutip pesan Bung Karno tahun 1965: For fighting a nation, the journey never ends (Bagi bangsa yang berjuang, perjalanan tidak pernah berakhir).
Pesan tersebut menekankan bahwa institusionalisasi partai adalah misi tanpa henti untuk menjaga marwah demokrasi dan kedaulatan rakyat.
Acara itu turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai negara. Sesi pembukaan dimulai dengan sambutan dari Chairperson CALD yang juga Senator Kamboja Mardi Seng bersama Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo "Erin" Tañada III serta perwakilan Friedrich Naumann Foundation (FNF) Almut Besold.
Forum itu juga mendengarkan pesan video khusus dari Presiden Timor Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta serta pidato kunci dari Senator Filipina, Francis "Kiko" Pangilinan.
Dalam diskusi panel, Hasto berbagi panggung dengan tokoh politik regional lainnya, seperti mantan Menteri Anggaran Filipina, Florencio "Butch" Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party (SDP) Chee Soon Juan dalam sesi yang dimoderatori oleh Editor-at-large Rappler, Marites Vitug.
Delegasi lain yang turut hadir memberikan perspektif, di antaranya Lee Boon Shian dari Malaysia, James Gomez dari Asia Centre, dan V Srivarathanabul: kandidat anggota parlemen Partai Demokrat Thailand.
Baca juga: Sekjen PDIP Hadiri Forum CALD di Manila
Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































