Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Gampong Geunteng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, menyatakan sebanyak 43 keluarga korban bencana dari desa tersebut kini sudah masuk hunian sementara (huntara).
"Ada sebanyak 43 keluarga dari Gampong Geunteng yang sudah masuk huntara. Dan kini, tidak ada lagi warga kami yang mengungsi di tenda-tenda," kata Keuchik (kepala desa) Gampong Geunteng Usman yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat.
Usman menyebutkan korban terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 di Gampong Geunteng mencapai 208 keluarga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 91 keluarga rumahnya rusak berat dan sempat mengungsi.
Kemudian, kata dia, dari 91 keluarga tersebut, sebanyak 43 keluarga di antaranya memilih masuk hunian sementara. Sedangkan selebihnya, sebanyak 48 keluarga memilih dana tunggu hunian sebesar Rp1,6 juta per tiga bulan.
"Puluhan keluarga yang memilih hunian sementara tersebar di tiga titik. Satu titik hunian sementara di kompleks terminal dan dua titik lainnya berada di huntara Gampong Geunteng," kata Usman.
Baca juga: 151 keluarga penyintas bencana di Pidie Jaya direlokasi ke huntara
Menyangkut dengan fasilitas huntara, Usman mengatakan beberapa unit hunian belum mendapatkan kipas angin. Serta instalasi air belum tersambung ke semua unit hunian.
"Kami berharap masalah instalasi air ini bisa segera diselesaikan karena air merupakan kebutuhan yang harus selalu tersedia. Begitu juga dengan kipas angin, ada yang belum terpasang di unit hunian," kata Usman.
Selain itu, Usman menyebutkan beberapa keluarga penyintas bencana yang tinggal di huntara mengharapkan bantuan kasur tambahan. Sebab, ada keluarga memiliki anak, tetapi tidak memiliki kasur yang mencukupi.
"Tidak semua unit hunian yang mengharapkan kasur tambahan, tetapi hanya beberapa saja. Kami berharap kebutuhan korban bencana yang masih kurang tersebut dapat dipenuhi," kata Usman.
Bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Pidie Jaya akhir November 2025 karena hujan lebat berhari-hari menyebabkan meluapnya Krueng (sungai) Meureudu.
Luapan sungai tersebut menimbulkan banjir bandang yang membawa material kayu dan lumpur. Lumpur tersebut menimbun pemukiman penduduk dan fasilitas publik dengan ketinggian hingga dua meter.
Baca juga: BPBD: Lima keluarga penghuni huntara di Bener Meriah direlokasi
Baca juga: Korban bencana di Aceh Barat sepakat huni huntara setelah Idul Fitri
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































