Harapan tahun baru bagi anak terdampak perang Timur Tengah (bagian 1)

1 month ago 18

Beirut (ANTARA) - Saat anak-anak di seluruh dunia menyambut Tahun Baru dengan kembang api dan resolusi, bagi mereka yang tumbuh di sepanjang garis zona konflik paling rawan di Timur Tengah, waktu diukur dengan cara yang berbeda.

Tahun Baru bagi mereka tidak lagi berarti kemajuan atau harapan, melainkan jarak antara apa yang telah hilang dan apa yang nyaris tersisa.

Dari "kota tenda" di Gaza hingga koridor yang terkepung di Sudan dan perbukitan selatan Lebanon yang berada di bawah pengawasan drone, sebuah generasi dibentuk bukan oleh ambisi, melainkan oleh ketahanan.

Bagi Mohammad Hamad (11), rumahnya adalah sebuah tenda putih dari nilon yang didirikan di pasir Al-Mawasi, Gaza selatan. Tenda itu menjadi tempat perlindungan sementara yang rapuh bagi keluarganya yang terdiri dari tujuh orang dan telah mengungsi delapan kali sejak perang dimulai.

Pelarian mereka dari Beit Hanoun di utara bagaikan peta kehilangan, yakni rumah yang hancur, seorang ayah yang kehilangan anggota tubuh, dan masa kanak-kanak yang kini dipenuhi oleh beban berat seperti mengangkut air dan menunggu jatah makanan yang sangat terbatas.

Sebelum perang terjadi, Hamad merupakan seorang pelajar yang dunianya dipenuhi dengan warna-warni cerah pensilnya dan kecintaan pada belajar. Dia bangga dengan buku-buku catatannya yang rapi dan barisan bangku kelasnya yang tertata rapi.

Tapi, konflik merenggut semua itu darinya. Kini, ruang kelas yang dulu menjadi tempat melindungi impiannya kini dipenuhi oleh keluarga-keluarga pengungsi atau hancur menjadi tumpukan puing-puing.

Kerusakan itu tidak hanya bersifat fisik. Ketakutan, sebut Hamad, tidak pernah benar-benar hilang.

Ketakutan itu tetap mengintai di malam hari, dalam mimpinya, dan dalam suara-suara tidak terduga yang mengingatkan pada dentuman tembakan artileri.

Pengungsi anak-anak Palestina bermain di luar rumah saat udara dingin, di tempat penampungan sementara dekat pelabuhan Gaza di Kota Gaza, pada 29 Desember 2025. (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Hidup dalam kekurangan telah mengikis harapan hingga titik terendah. Oleh karena itu, harapan Hamad untuk Tahun Baru ini sangat sederhana. Dia tidak meminta apa-apa selain kembalinya ke kehidupan yang normal.

"Saya berharap kita tidak pernah kembali mengalami apa yang telah kita lalui," ungkap dia.

Bagi Hamad, perdamaian bukanlah sesuatu yang abstrak atau politis, kedamaian baginya adalah suara burung di pagi hari dan jalur yang aman menuju sekolah.

Berjarak ribuan mil ke selatan, di jantung Sudan yang terpecah belah, Awab Mohamed Abdel-Rahim (13) dihantui oleh ketiadaan yang berbeda.

"Ayah saya meninggal karena obat-obatan tidak tersedia," ungkap Abdel-Rahim dengan ketenangan yang mengharukan untuk seorang anak seusianya.

Kalimat sederhana itu menggemakan tragedi ribuan keluarga yang terjebak di kota-kota Sudan yang terkepung, terputus dari pasokan makanan, obat-obatan, dan jalan keluar.

Abdel-Rahim kini tinggal bersama sang ibu dan saudara-saudaranya di kamp pengungsi di El Obeid, Sudan tengah, setelah melarikan diri dari Kota Babanusa di bagian barat daya. Selama hari-hari yang penuh keputusasaan itu, Abdel-Rahim mengingat bagaimana ayahnya semakin lemah saat mencari obat yang tak kunjung didapat.

"Rumah sakitnya kosong. Setiap hari kondisinya semakin memburuk, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa."

Trauma telah membentuk tekad dalam dirinya yang jauh melampaui usianya. Dia bermimpi menjadi seorang dokter, membayangkan masa depan di mana perawatan medis menjadi hak dasar, bukan korban dari konflik.

Harapan Tahun Barunya, yang lahir dari kesedihan, ialah "Saya berharap tidak ada anak yang kehilangan ayahnya akibat perang".

(Bersambung ke Bagian 2)

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |